Merekamindonesia – Sejumlah ilmuwan di Amerika Serikat kini menggunakan hiu untuk memprediksi badai dengan cara yang tak terduga. Alih-alih hanya mengandalkan satelit dan pelampung laut, para peneliti dari University of Delaware memasang sensor kecil di tubuh hiu untuk merekam kondisi samudra secara langsung. Data ini diharapkan mempertajam akurasi ramalan badai yang mengancam pesisir timur AS.
Poin Penting
- Peneliti University of Delaware memasang sensor CTD di sirip punggung hiu untuk mengukur suhu, salinitas, dan kedalaman laut.
- Data dari sensor otomatis terkirim ke satelit setiap kali hiu muncul ke permukaan air.
- Empat jenis hiu disasar: mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar berusia muda.
- Pemasangan sensor dilakukan tiap Mei dan berlangsung kurang dari lima menit demi menjaga kondisi fisik hiu.
Kenapa Hiu Dipilih untuk Memprediksi Badai
Selama ini citra hiu identik dengan predator menakutkan lewat film-film seperti Jaws atau Sharknado. Namun bagi tim peneliti, hiu justru punya keunggulan praktis. Populasinya melimpah, penyebarannya luas, dan aksesnya lebih mudah dibanding mamalia laut yang berstatus dilindungi.
Aaron Carlisle, profesor di School of Marine Science and Policy University of Delaware sekaligus ketua tim peneliti, menyebut karakteristik itu membuat hiu jadi kandidat ideal sebagai pengamat laut bergerak. Ia menjelaskan fokus riset ini ada pada lapisan teratas samudra yang disebut mixed layer, karena suhu di lapisan itulah yang menentukan seberapa kuat badai bisa terbentuk.
“Semakin hangat lapisan campuran ini, semakin kuat pula badai yang terbentuk karena area tersebut menyimpan panas yang memberi energi pada badai,” ujar Carlisle.
Cara Kerja Sensor CTD di Tubuh Hiu
Perangkat yang ditempelkan pada sirip punggung hiu disebut CTD tags. Alat ini merekam konduktivitas listrik air untuk mengukur salinitas, suhu, dan kedalaman laut setiap kali hiu menyelam. Begitu hiu muncul ke permukaan, data tersebut langsung terkirim otomatis ke jaringan satelit.
Metode inilah yang membuat proyek hiu untuk memprediksi badai ini berbeda dari pendekatan konvensional. Alih-alih menunggu kapal riset atau pelampung mengukur satu titik laut, hiu bergerak bebas menjangkau area luas yang sulit dipantau manusia secara terus-menerus.
Jenis Hiu yang Disasar Peneliti
Tidak semua hiu cocok untuk misi ini. Tim memilih empat jenis yang sering muncul ke permukaan laut Atlantik Utara: hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar berusia muda. Kebiasaan mereka yang gemar ke permukaan membuat transmisi data ke satelit berjalan lancar.
Proses pemasangan sensor dimulai setiap awal Mei, bertepatan dengan musim migrasi hiu mendekati pesisir. Carlisle mengibaratkan proses ini seperti kerja kru pit stop di arena balap, karena harus selesai dalam waktu kurang dari lima menit agar kondisi fisik hiu tetap terjaga. Alat itu sendiri dirancang berkarat dan lepas dengan sendirinya seiring waktu.
Manfaat bagi Wilayah Pesisir
Peneliti lain dalam tim, Caroline Wiernicki, punya cara unik menggambarkan peran hiu-hiu ini. Ia menyebut hiu kini lebih mirip pegawai kantor yang mencatat jam kerja dan menyerahkan laporan suhu harian ke ilmuwan.
Baca juga: ASI Eksklusif Indonesia: Sepertiga Bayi Masih Terlewat, Ini Kata IDAI
Data yang terkumpul dari tubuh hiu diharapkan membantu mempertajam prediksi cuaca sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dari North Carolina hingga Massachusetts. Semakin sering hiu berenang membawa sensor, semakin banyak data suhu laut yang bisa dipakai memperkirakan kekuatan badai sebelum menerjang daratan.
Kesimpulan
Riset ini menunjukkan bagaimana hewan liar bisa berperan penting dalam sains modern. Lewat sensor sederhana, hiu untuk memprediksi badai bukan lagi ide fiksi, melainkan metode nyata yang tengah diuji di lautan Atlantik untuk melindungi jutaan warga pesisir dari ancaman badai yang kian ekstrem. MI/AS
Sumber: teknologi












