Merekamindonesia – Di sebuah ruang menyusui yang sempit di sudut kantor, seorang ibu muda buru-buru memerah ASI di sela jam istirahat yang tinggal sepuluh menit. Ia harus kembali ke mejanya sebelum atasan menegur. Cerita semacam ini bukan kasus langka—ia mewakili jutaan ibu bekerja di Indonesia yang berjuang mempertahankan asi eksklusif indonesia di tengah keterbatasan waktu, ruang, dan dukungan.
Poin Penting
- Cakupan ASI eksklusif Indonesia meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi sekitar 66 persen pada 2024 menurut data WHO dan UNICEF.
- Sekitar sepertiga anak Indonesia masih belum mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.
- IDAI mencatat sekitar 45 persen kegagalan ASI eksklusif terjadi karena ibu harus kembali bekerja tanpa dukungan fasilitas memerah ASI.
- Promosi susu formula dan minimnya dukungan keluarga, terutama suami, turut menghambat keberhasilan menyusui.
Angka yang Membaik, tapi Belum Cukup
Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A, Subsp.Neo(K), menyebut tren pemberian ASI eksklusif di Tanah Air sebenarnya sedang menanjak. Berdasarkan data WHO dan UNICEF, cakupannya naik dari 52 persen pada 2017 menjadi sekitar 66 persen pada 2024.
Namun kenaikan itu, menurut Naomi, tidak boleh membuat kita berpuas diri. Sebab di baliknya masih ada satu dari tiga anak Indonesia yang tidak mendapatkan haknya atas ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
“Angka ini sebenarnya masih perlu dimaksimalkan, karena artinya satu per tiga anak Indonesia tidak mendapatkan ASI eksklusif,” ujar Naomi kepada CNN Indonesia, Jumat (7/8).
Ibu Bekerja, Kelompok Paling Rentan
Naomi menjelaskan, penurunan angka menyusui paling sering terjadi justru menjelang bulan keenam—tepat saat cuti melahirkan biasanya sudah habis dan ibu harus kembali bekerja. Padahal ASI perah sebenarnya bisa menjadi solusi agar bayi tetap mendapat ASI meski ibunya di kantor.
Masalahnya, tidak semua tempat kerja menyediakan ruang atau memberi waktu yang cukup untuk memerah. “Sekitar 45 persen kegagalan ASI eksklusif karena ibu bekerja. Ibu bekerja bisa perah, tapi tidak semua kantor atau perusahaan menyediakan dan mendukung,” kata Naomi.
Ia menegaskan, ibu bekerja butuh dukungan konkret: ruangan khusus, serta kesempatan atau waktu untuk memerah ASI di sela pekerjaan. Tanpa itu, niat menyusui eksklusif kerap kandas di tengah jalan.
Promosi Susu Formula dan Bayang-Bayang Kesalahan Ibu
Selain soal pekerjaan, Naomi menyoroti gencarnya promosi susu formula sebagai hambatan tersendiri. Menurutnya, iklan dan tawaran susu formula yang masif turut menekan angka menyusui di masyarakat.
Yang tak kalah penting, Naomi mengingatkan bahwa kegagalan menyusui bukan semata kesalahan ibu. Ia melihat masih banyak yang menyalahkan ibu ketika ASI eksklusif tidak tercapai, padahal keluarga inti punya andil besar.
“Yang perlu diedukasi bukan cuma ibunya, karena banyak orang menyalahkan ibunya kalau gagal menyusui. Padahal kita juga perlu mengedukasi keluarga inti terutama suami untuk mendukung, karena ibu-ibu kadang-kadang mau menyusui, tapi direcoki suami atau mertua,” imbuhnya.
Baca juga: Melahirkan Tanpa Ribet Urus Dokumen, Warga Luwu Timur Apresiasi Program IPBAL, sebuah contoh bagaimana kemudahan layanan bagi ibu melahirkan turut membantu awal perjalanan menyusui yang lebih tenang.
Peran Rumah Sakit lewat Baby-Friendly Hospital Initiative
Naomi menilai fasilitas kesehatan memegang peran krusial melalui program Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI). Program ini memuat sepuluh langkah, mulai dari edukasi tenaga kesehatan, penerapan rawat gabung atau rooming in, hingga larangan promosi susu formula di lingkungan rumah sakit.
“Kalau itu dijalankan di rumah sakit, itu akan dongkrak (angka keberhasilan menyusui ASI eksklusif) banget,” katanya. Ia menekankan bahwa peningkatan asi eksklusif indonesia tidak bisa mengandalkan satu pihak saja.
Menurutnya, semua elemen mesti bergerak bersama: dokter, bidan, keluarga, suami, pemerintah, tempat kerja, hingga media. “Intinya, semua dari kita mulai dari dokter, tenaga kesehatan, bidan, keluarga, suami, sampai pemerintah dan media punya peran untuk bisa menaikkan angka ini,” tutup Naomi.
Di balik statistik 66 persen itu, ada ribuan ibu yang masih berjuang sendirian—memerah ASI di toilet kantor, menghadapi komentar mertua, atau menyerah karena tak ada yang membantu. Angka bisa naik di atas kertas, tapi perjuangan sesungguhnya baru selesai ketika dukungan nyata hadir di setiap rumah dan tempat kerja. MI/AS
Sumber: gaya hidup












