Merekamindonesia – Di ketinggian sekitar 16.000 kaki di atas wilayah udara Yunani, suara dentuman keras tiba-tiba memecah keheningan kabin. Autopilot langsung terputus, dan tak lama kemudian jendela pesawat Ryanair pecah, menyeret kepala dan bahu seorang penumpang hingga separuh badannya berada di luar kabin. Peristiwa yang terjadi pada 10 Juli itu menyisakan trauma mendalam bagi penumpang bernama Ljubisa Karovic (61), yang duduk di kursi 11F dalam penerbangan rute Thessaloniki, Yunani, menuju Memmingen, Jerman.
Insiden itu terjadi kurang dari 10 menit setelah pesawat lepas landas. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat atau NTSB merilis laporan awal kejadian tersebut pada Kamis (13/8), lengkap dengan rekonstruksi detik demi detik yang terjadi di kokpit sebelum kaca kabin retak dan akhirnya pecah di udara.
Poin Penting
- Jendela pesawat Ryanair pecah pada 10 Juli akibat bilah kipas mesin No. 2 yang lepas dan menghantam badan pesawat.
- Penumpang Ljubisa Karovic (61) di kursi 11F sempat tersedot sebagian ke luar jendela dan mengalami luka serius.
- NTSB menemukan retak lelah pada bilah kipas mesin CFM56-7B26 meski baru diperiksa kurang dari tiga pekan sebelumnya.
- NTSB menegur CEO Ryanair Michael O’Leary karena berkomentar soal insiden saat penyelidikan masih berjalan.
Detik-Detik Jendela Pesawat Ryanair Pecah di Udara
Menurut catatan NTSB, tujuh setengah menit setelah lepas landas, pilot menerima peringatan getaran mesin yang tinggi. Kurang dari dua menit berselang, getaran itu meningkat drastis hingga pilot mendengar dentuman keras yang bersamaan dengan lepasnya autopilot. Boeing 737-8AS berusia 18 tahun itu akhirnya berbalik arah dan mendarat darurat di Bandara Thessaloniki demi keselamatan seluruh penumpang.
Istri Karovic menuturkan kepada Reuters, sebagaimana dikutip CNN, bahwa dirinya bersama seorang pramugari bahu-membahu menarik suaminya kembali ke dalam kabin. NTSB dalam laporannya mencatat penumpang tersebut mengalami luka serius akibat benturan dengan bingkai jendela dan tekanan udara yang tiba-tiba berubah drastis saat kaca pecah. Masker oksigen otomatis turun dari kompartemen atas, dan kru kabin segera mengarahkan penumpang lain untuk tetap tenang serta mengenakan sabuk pengaman ganda selama proses pendaratan darurat berlangsung.
Baca juga: Bahaya Main HP Sambil Dicas: Baterai Rusak sampai Bisa Meledak, contoh lain bagaimana kegagalan komponen kecil bisa memicu insiden besar jika tidak diwaspadai sejak awal.
Penyebab: Bilah Kipas Mesin yang Lepas
Investigasi awal NTSB menunjukkan bahwa sumber masalah berasal dari salah satu bilah kipas pada mesin nomor dua pesawat, yaitu mesin CFM56-7B26 buatan CFM International. Bilah kipas tersebut mengalami retak akibat kelelahan logam atau fatigue crack, sebuah kondisi yang terjadi ketika material logam melemah setelah menerima tekanan berulang dalam jangka waktu lama. Yang mengejutkan, mesin tersebut baru saja menjalani inspeksi rutin kurang dari tiga pekan sebelum insiden terjadi, namun retakan pada bilah kipas rupanya belum terdeteksi pada saat pemeriksaan tersebut.
Ketika bilah kipas lepas dari porosnya, pecahannya diduga menghantam bagian badan pesawat dengan kecepatan tinggi hingga menembus dinding kabin dan membuat jendela pesawat retak lalu pecah total. Para penyelidik kini tengah mendalami mengapa retak lelah tersebut tidak terdeteksi lebih awal, termasuk mengevaluasi metode inspeksi visual dan ultrasonik yang biasa digunakan maskapai untuk memeriksa komponen mesin kritikal semacam ini.
Kontroversi Komentar CEO Ryanair
Di tengah proses investigasi yang masih berjalan, CEO Ryanair Michael O’Leary sempat memberikan pernyataan publik terkait insiden tersebut. Langkah ini menuai teguran dari NTSB karena dianggap dapat memengaruhi persepsi publik sebelum hasil penyelidikan resmi dirilis. Dalam praktik penerbangan internasional, pihak maskapai maupun produsen pesawat umumnya diminta menahan diri untuk berkomentar detail teknis selama proses investigasi berlangsung, guna menjaga independensi dan objektivitas temuan.
NTSB menegaskan bahwa laporan yang dirilis saat ini masih bersifat awal dan dapat berubah seiring berkembangnya penyelidikan. Lembaga tersebut akan terus mengumpulkan data dari kotak hitam pesawat, rekaman komunikasi kokpit, serta hasil pemeriksaan fisik terhadap bilah kipas dan bagian badan pesawat yang rusak.
Dampak dan Langkah Selanjutnya
Ryanair menyatakan akan bekerja sama penuh dengan otoritas penyelidikan dan menegaskan komitmennya terhadap standar keselamatan penerbangan. Insiden semacam ini bukan pertama kalinya terjadi dalam sejarah penerbangan komersial; kegagalan bilah kipas mesin juga pernah memicu insiden serupa pada maskapai lain di masa lalu, yang kemudian mendorong perubahan regulasi inspeksi mesin secara global.
Baca juga: Sesar Naik Flores: Momok Gempa yang Renggut Ribuan Nyawa, pengingat bahwa risiko bencana dari faktor alam maupun teknis sama-sama memerlukan kesiapsiagaan matang.
Bagi Karovic dan keluarganya, insiden ini meninggalkan bekas trauma yang tidak mudah dilupakan. Kasus ini juga menjadi pengingat penting bagi industri penerbangan tentang perlunya evaluasi berkala terhadap metode inspeksi komponen mesin, terutama pada armada pesawat yang sudah berusia lebih dari satu dekade. Hasil akhir investigasi NTSB nantinya diharapkan dapat memberikan rekomendasi konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang, baik bagi Ryanair maupun maskapai penerbangan lain yang mengoperasikan armada Boeing 737 dengan mesin sejenis. MI/AS
Sumber: gaya hidup












