Merekamindonesia – Sesar Naik Flores kembali jadi sorotan setelah gempa berkekuatan M7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) pagi. Patahan aktif di dasar laut ini bukan pemain baru dalam sejarah kegempaan Indonesia. Selama lebih dari dua abad, sesar tersebut sudah beberapa kali mengirim guncangan mematikan ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Poin Penting
- Sesar Naik Flores tercatat memicu lima gempa besar sejak 1815 hingga 1992 di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
- Gempa Flores 1992 dan gempa Seririt 1976 masing-masing menewaskan lebih dari 2.500 dan 559 orang.
- Segmen Lombok-Sumbawa memiliki potensi magnitudo maksimum paling besar, yakni M8,0.
- Ahli menegaskan gempa tidak bisa diprediksi waktunya sehingga mitigasi harus dilakukan terus-menerus.
Jejak Panjang Gempa dari Sesar Naik Flores
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyebut setidaknya lima gempa kuat pernah bersumber dari patahan ini. Catatan tertua berasal dari 22 November 1815, ketika gempa M7,0 mengguncang Bali-Lombok dan memicu tsunami di pesisir utara Bali serta Lombok.
Rentetan berikutnya terjadi pada 28 November 1836 di Bima dengan magnitudo 7,5, lalu berulang di Bali-Lombok pada 13 Mei 1857 dengan kekuatan serupa, M7,0, yang juga memunculkan tsunami. Dua peristiwa paling merusak datang di era modern: gempa Seririt 14 Juli 1976 (M6,6) yang merobohkan 67.419 rumah dan menewaskan 559 orang di Bali, serta gempa Flores 12 Desember 1992 (M7,8) yang tsunaminya merenggut lebih dari 2.500 nyawa.
Bagaimana Sesar Ini Terbentuk
Sesar Naik Flores membentang di perairan utara Bali, Nusa Tenggara, hingga Wetar. Menurut Daryono, patahan ini terbentuk akibat tekanan tektonik dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Fenomena sesar naik busur belakang semacam ini, katanya, memang lazim ditemukan di belakang zona subduksi lempeng.
Riset soal keberadaannya sudah dimulai sejak 1979 oleh ahli geologi Amerika Serikat, Warren B Hamilton, lewat buku Tectonics of the Indonesian Region. Penelitian berlanjut lewat ekspedisi bahari Eli A Silver dari University of California Santa Cruz pada 1986, yang memperkirakan sistem sesar ini menyambung hingga Cekungan Bali di Laut Bali. Studi lanjutan oleh Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada 1987, serta Masturyono (1994) dan Daryono sendiri (2000), makin memperkuat bukti keberadaan bidang sesar aktif tersebut.
Segmen Sesar Naik Flores dan Potensi Magnitudonya
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) memetakan beberapa segmen aktif. Segmen Bali punya laju pergeseran 6,9 milimeter per tahun dengan potensi magnitudo maksimum 7,4. Segmen Lombok-Sumbawa lebih besar lagi, dengan laju 9,9 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum bisa mencapai 8,0.
Sementara itu, Segmen Flores Barat dan Flores Tengah masing-masing bergerak 11,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5, dan Segmen Flores Timur bergerak 5,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum yang sama. Data ini menunjukkan bahwa ancaman dari Sesar Naik Flores tersebar di sepanjang jalurnya, bukan hanya di satu titik.
Baca juga: Usai Mengabdi di 12 Desa, 75 Mahasiswa KKN Unhas Kembali ke Kampus, contoh bagaimana kesiapan komunitas di daerah rawan bencana turut dibangun lewat kegiatan pengabdian mahasiswa.
Mitigasi Jadi Kunci karena Gempa Tak Bisa Diprediksi
Daryono menegaskan bahwa sains belum mampu memastikan kapan gempa besar berikutnya akan terjadi. “Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya,” ujarnya.
Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Sesar Naik Flores bukan ancaman sesaat. Sejarah mencatat pola pengulangan gempa dari sumber yang sama dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun.
Kesimpulan
Lima gempa besar dari Sesar Naik Flores dalam kurun 1815 hingga 1992 sudah cukup menjadi pelajaran. Riset panjang para ahli, dari Hamilton hingga Daryono, memperkuat bukti bahwa jalur ini aktif dan berbahaya. Kewaspadaan warga di sepanjang utara Bali hingga Nusa Tenggara tetap jadi langkah paling realistis menghadapi ancaman yang belum bisa diprediksi waktunya ini. MI/AS
Sumber: teknologi












