Cerita Indonesia

Sinyal Tubuh Perempuan Kerap Diabaikan, Ini Akibatnya

×

Sinyal Tubuh Perempuan Kerap Diabaikan, Ini Akibatnya

Sebarkan artikel ini
sinyal tubuh perempuan
Dok. Istimewa

Merekamindonesia – Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika seorang perempuan pekerja di Jakarta baru sempat duduk sendirian. Bahunya pegal sejak siang, tapi rasa itu ia tunda karena masih harus menyiapkan makan malam, mengecek tugas anak, lalu membalas pesan kantor yang menumpuk. Cerita semacam ini bukan kejadian langka. Banyak perempuan terbiasa mengabaikan sinyal tubuh perempuan yang sebenarnya sudah memberi peringatan sejak lama, mulai dari nyeri ringan hingga rasa lelah yang tak kunjung hilang.

Peran ganda yang dijalani perempuan masa kini membuat waktu untuk diri sendiri sering kali menjadi yang paling akhir dipikirkan. Bekerja, mengurus keluarga, bersosialisasi, dan tetap menjalani hobi harus dilakukan hampir bersamaan setiap hari. Kondisi ini membuat kelelahan fisik dan mental datang tanpa disadari, sampai akhirnya menumpuk dan sulit diatasi.

Mengapa Sinyal Tubuh Perempuan Sering Terlewat

Kesadaran akan gaya hidup sehat secara menyeluruh, atau yang biasa disebut wellness, sebenarnya terus berkembang di berbagai kalangan. Namun kesadaran itu belum selalu diikuti kepekaan terhadap tubuh sendiri. Stres, nyeri yang menetap, gangguan tidur, atau perubahan suasana hati kerap dianggap hal biasa yang akan hilang sendiri.

Padahal data menunjukkan perhatian dunia terhadap kesehatan justru semakin besar. Laporan 2024 Global Wellness Economy Monitor dari Global Wellness Institute (GWI) mencatat ekonomi wellness global mencapai US$6,3 triliun pada 2023, dan angka ini diproyeksikan mendekati US$9 triliun pada 2028. Sementara itu, Worldwide Survey of Fitness Trends 2026 dari American College of Sports Medicine (ACSM) menempatkan olahraga untuk kesehatan mental, atau Exercise for Mental Health, di peringkat keenam tren kebugaran dunia.

Poin Penting

  • Ekonomi wellness global tercatat US$6,3 triliun pada 2023 dan diproyeksikan mendekati US$9 triliun pada 2028 menurut Global Wellness Institute.
  • Worldwide Survey of Fitness Trends 2026 dari ACSM menempatkan olahraga untuk kesehatan mental di peringkat keenam tren kebugaran dunia.
  • Riset Drexel University menemukan aktivitas seni selama 45 menit berkaitan dengan penurunan kadar hormon kortisol pada sebagian besar peserta.
  • Patchtastic Day 2026 dari Salonpas Pain Relief Patch menargetkan 1.800 hingga 2.000 peserta lewat gerakan #ShareTheComfort.

Angka-angka itu menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap olahraga. Aktivitas fisik kini tidak lagi sekadar dilihat sebagai cara menjaga bentuk tubuh, tetapi juga sebagai alat untuk mengelola tekanan pikiran sehari-hari. Bagi perempuan dengan jadwal padat, olahraga bisa menjadi ruang kecil untuk kembali terhubung dengan diri sendiri, asalkan porsinya disesuaikan dengan kondisi tubuh agar tidak menambah beban baru.

Seni sebagai Ruang Jeda dari Rutinitas

Selain gerak fisik, kegiatan kreatif ternyata juga punya peran dalam menjaga keseimbangan diri. Penelitian dari Drexel University yang dikutip dalam kegiatan Patchtastic Day 2026 menemukan bahwa aktivitas seni selama 45 menit berkaitan dengan penurunan kadar kortisol, hormon yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres, pada sebagian besar peserta yang diteliti.

Meski begitu, kegiatan seni bukan pengganti penanganan profesional bila seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang serius. Aktivitas semacam ini lebih tepat dipandang sebagai bentuk rekreasi dan perawatan diri, semacam jeda kecil di tengah rutinitas yang padat. Baca juga: Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur, Efeknya Bikin Melek Seharian, kebiasaan sederhana lain yang juga berdampak pada kondisi tubuh sehari-hari.

Merawat Diri Bukan Berarti Egois

Kesibukan sering membuat seseorang terbiasa menomorduakan kebutuhannya sendiri demi orang lain. Perempuan yang menjalani banyak peran kerap mengalami pola ini tanpa sadar. Padahal merawat diri tidak sama dengan mengabaikan tanggung jawab, justru waktu istirahat yang cukup membantu seseorang kembali beraktivitas dengan kondisi lebih baik.

Cara merawat diri sebenarnya bisa sederhana: tidur cukup, makan bergizi, rutin bergerak, melakukan hal yang disukai, dan menyediakan waktu bersosialisasi. Yang tak kalah penting adalah mengenali batas tubuh sendiri. Rasa lelah terus-menerus, gangguan tidur, perubahan suasana hati, atau nyeri yang menetap sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, dan pemeriksaan ke tenaga kesehatan perlu dilakukan bila keluhan sudah mengganggu aktivitas.

Kesadaran ini pula yang mendasari kegiatan Patchtastic Day 2026 yang digelar Salonpas Pain Relief Patch melalui gerakan sosial #ShareTheComfort, mengusung tema “Bringing Comfort Closer to You”. Ira Guci, Product Manager Salonpas Pain Relief Patch, menyebut perempuan sering menjadi sumber kenyamanan bagi orang lain tetapi lupa menyediakan waktu untuk dirinya sendiri.

“Kami percaya bahwa kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Kami ingin menghadirkan ruang nyaman bagi perempuan untuk melepaskan penat, memulihkan energi, dan kembali terhubung dengan komunitasnya. Kami ingin kenyamanan ini berkembang menjadi rantai kebaikan yang saling menguatkan,” kata Ira.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Patchtastic Day memadukan kelas olahraga seperti Pound Fit, Zumba, dan yoga, dengan kegiatan kreatif seperti membuat gelang manik-manik, menghias gantungan tas, membuat gantungan kunci tumbler, boneka kain, hingga gantungan kunci akrilik. Rangkaian acara ini menargetkan partisipasi sekitar 1.800 hingga 2.000 peserta.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan soal seberapa banyak aktivitas yang bisa diselesaikan dalam sehari. Kemampuan mendengarkan sinyal tubuh perempuan, mengenali kapan harus berhenti sejenak, dan memberi ruang untuk hal-hal yang menyenangkan justru menjadi bagian penting dari keseimbangan hidup yang sering terlupakan di tengah kesibukan. MI/AS

Sumber: gaya hidup