Cerita Indonesia

Sukun Superfood? Guru Besar IPB Ungkap Gizinya

×

Sukun Superfood? Guru Besar IPB Ungkap Gizinya

Sebarkan artikel ini
sukun superfood
Dok. Istimewa

Merekamindonesia – Di banyak pasar tradisional, sukun goreng biasa dijajakan begitu saja di keranjang bambu, renyah, murah, dan jarang dilirik sebagai sesuatu yang istimewa. Namun di balik potongan kuning keemasan yang kriuk itu, tersimpan cerita gizi yang belum banyak diketahui orang. Sukun superfood, begitu istilah yang belakangan mulai disematkan para peneliti pangan, ternyata bukan sekadar julukan berlebihan.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Profesor Edi Santosa, menjadi salah satu yang mengangkat gagasan ini ke permukaan. Menurutnya, sukun punya peluang besar menjadi bahan pangan andalan Indonesia pada masa mendatang, bukan hanya karena rasanya yang akrab di lidah, tapi karena nilai gizinya yang jarang disadari masyarakat.

Apa Syarat Sebuah Pangan Disebut Sukun Superfood?

Tidak sembarang bahan makanan bisa disematkan label superfood. Edi menjelaskan, sebuah pangan baru layak disebut demikian jika memenuhi tiga syarat sekaligus.

“Suatu pangan dapat disebut super food jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa anutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim,” jelas Edi.

Dari hasil kajian dan pengamatan lapangan yang ia lakukan, sukun disebut memenuhi ketiga kriteria tersebut secara bersamaan. Bukan hanya sehat, sukun juga dinilai ramah bagi lingkungan sejak dari cara ia dibudidayakan hingga tumbuh.

Poin Penting

  • Guru Besar IPB Profesor Edi Santosa menyebut sukun berpotensi menjadi superfood Indonesia di masa depan.
  • Sukun kaya serat, indeks glikemik rendah, serta mengandung vitamin C, vitamin A, folat, zat besi, dan zinc.
  • Kandungan gizi sukun dinilai lebih baik dibanding singkong meski keduanya tetap saling melengkapi.
  • Pohon sukun tangguh tumbuh baik di daerah curah hujan tinggi maupun lahan tandus, sehingga rendah risiko akibat perubahan iklim.

Kandungan Gizi yang Bikin Sukun Layak Diperhitungkan

Selama ini sukun kerap dianggap sekadar camilan gorengan, padahal riset menunjukkan sisi lain yang jauh lebih kaya. Sukun ternyata menyimpan serat tinggi dengan indeks glikemik rendah, sifat yang membuatnya lebih bersahabat bagi mereka yang menjaga kadar gula darah.

Tak berhenti di situ, beberapa penelitian juga mencatat adanya kandungan vitamin C, vitamin A, folat, zat besi, hingga zinc di dalam sukun. Kombinasi nutrisi semacam ini disebut punya peran penting dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, termasuk membantu upaya menekan angka stunting di Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Edi juga membandingkan sukun dengan singkong, salah satu sumber karbohidrat yang jauh lebih populer di meja makan orang Indonesia. Menurutnya, dari sisi kandungan nutrisi, sukun justru unggul.

“Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi. Jadi, tidak perlu dipertentangkan,” ujar Edi.

Pernyataan ini terasa penting di tengah kecenderungan masyarakat yang sering membanding-bandingkan satu bahan pangan dengan bahan pangan lain seolah harus ada yang kalah. Padahal, keragaman sumber karbohidrat justru bisa memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

Tumbuh di Tanah Tandus, Tahan di Musim Ekstrem

Keunggulan sukun tak berhenti pada isi gizinya saja. Sebagai pohon tahunan, sukun dikenal punya daya tahan yang cukup istimewa terhadap kondisi cuaca yang keras.

Pohon ini bisa tumbuh subur baik di wilayah dengan curah hujan tinggi maupun di lahan yang cenderung tandus dan kering. Karakter semacam ini membuat sukun menjadi kandidat yang menjanjikan di tengah tantangan perubahan iklim yang membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi.

Baca juga: Rumah Hijau untuk Semesta: KWT Manurung Raih Rp100 Juta, kisah lain tentang bagaimana pengelolaan pangan dan lahan yang tepat bisa mendatangkan manfaat nyata bagi warga.

Bagi petani dan penggerak ketahanan pangan lokal, sifat tangguh semacam ini menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, tanaman pangan yang mudah gagal panen akibat cuaca ekstrem justru berisiko memperberat masalah kerawanan pangan di berbagai daerah.

Melihat Sukun dengan Cara Baru

Selama ini sukun mungkin lebih sering singgah di ingatan sebagai camilan sore hari, teman minum teh, atau jajanan pinggir jalan yang murah meriah. Namun temuan-temuan di atas mengajak kita melihatnya dari sudut yang berbeda.

Julukan sukun superfood barangkali masih terdengar asing di telinga banyak orang. Tapi dengan kandungan gizi yang mumpuni dan daya tahan tanaman yang teruji, sukun punya alasan kuat untuk naik kelas dari sekadar camilan menjadi bagian penting dari strategi pangan Indonesia ke depan. MI/AS

Sumber: gaya hidup