“Lounge bandara bukan gaya-gayaan seperti yang kamu kira,” ucap TikToker Izzy Anaya dalam video yang menampilkan bufet lesu di sebuah lounge.
Keluhan soal slot pengisi daya yang penuh ini juga jadi masalah tersendiri bagi traveler yang mengandalkan gawai untuk memantau jadwal penerbangan. Soal boros daya perangkat pun kadang datang bukan cuma dari fasilitas lounge, tapi juga dari aplikasi ponsel yang diam-diam menguras baterai selama menunggu keberangkatan.
Eric Gao, pemilik akun TikTok yang membahas trik perjalanan, punya cerita lain. Juni lalu ia mengunggah video antrean masuk lounge berlabel Chase Sapphire yang mengular panjang. “Bayangkan membayar US$795 per tahun, setara Rp14,33 juta dengan kurs Rp18.029, cuma supaya saya bisa antre di bandara,” katanya.
Tyler Dillon, spesialis perjalanan asal Kanada yang juga berprofesi sebagai profesor, akhirnya menyerah dan berhenti total memakai lounge. “Lounge-lounge ini tidak sama. Lebih mirip kapal pesiar,” ujarnya, menggambarkan betapa timpangnya standar antara satu lounge dengan lounge lain.
Lounge Mewah di Satu Sisi, Grab and Go di Sisi Lain
Kyle Olsen, penulis topik lounge untuk situs mitra CNN, Underscored, menyebut lounge kini tak lagi setara satu sama lain. Sebagian lounge kelas atas menambah fasilitas seperti hot tub pribadi dan perawatan kulit, sementara sebagian lain justru merilis konsep grab and go untuk mengambil makanan secara cepat tanpa duduk lama.
“Itu tidak benar-benar lebih baik dibanding sekadar membeli yogurt parfait seharga US$15, atau setara Rp270.435 dengan kurs Rp18.029, lalu langsung ke gerbang keberangkatan,” jelas Olsen soal konsep grab and go tersebut. Baginya, jalan pintas semacam ini tak selalu menghadirkan nilai lebih bagi penumpang.
Namun Olsen menolak gagasan bahwa solusinya adalah membuat lounge kembali eksklusif dan sulit dijangkau. “Menurut saya lounge semestinya bisa diakses lebih banyak orang. Saya tidak setuju kalau itu cuma disediakan untuk orang-orang yang duduk di first class,” tegasnya.
Perdebatan ini pada akhirnya bukan cuma soal fasilitas makan atau kursi kosong. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih besar: apakah kenyamanan bisa tetap terjaga saat sesuatu yang dulu eksklusif kini dinikmati jauh lebih banyak orang. Bagi sebagian traveler, jawabannya mungkin sederhana, mereka cukup datang lebih awal, atau justru berhenti berharap terlalu banyak dari sebuah ruang tunggu yang dulu terasa istimewa. MI/AS
Sumber: gaya hidup






