Kepala Daerah

Padungku Danau Matano: Warga Rayakan Panen, Diusulkan Jadi Geopark Nasional

×

Padungku Danau Matano: Warga Rayakan Panen, Diusulkan Jadi Geopark Nasional

Sebarkan artikel ini
padungku danau matano
Dok. Istimewa

Merekamindonesia – Padungku Danau Matano digelar di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, pada Sabtu hingga Ahad, 1-2 Agustus 2026. Pesta rakyat tahunan ini mengangkat tema “Mendayung Bersama Menuai Makna” sebagai ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus perekat kebersamaan lintas suku dan agama di daerah yang dijuluki “Indonesia Mini” itu.

Poin Penting

  • Pesta rakyat Padungku digelar di Desa Matano, Kecamatan Nuha, pada 1-2 Agustus 2026 dengan tema Mendayung Bersama Menuai Makna.
  • Pemkab Luwu Timur mendorong kawasan Nuha, termasuk Danau Matano dan Pulau Empat, diusulkan sebagai Geopark Nasional.
  • Danau Matano dikenal sebagai salah satu danau terdalam di Asia Tenggara dan menjadi kebanggaan warga setempat.
  • Rangkaian acara diisi tari Momaani, wisata kuliner, booth UMKM, lomba perahu dayung dan bangka-bangka, serta permainan tradisional.

Penutupan acara berlangsung khidmat sekaligus meriah. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur diwakili Kepala Dinas Kominfo SP, Andi Tabacina Akhmad, hadir bersama Camat Nuha Arief Fadillah Amier dan Kepala Desa Matano, Jumahir. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Nuha.

Danau Matano dan Rencana Besar Geopark Nasional

Dalam sambutannya, Andi Tabacina Akhmad menyebut Desa Matano sebagai kampung yang indah dan aman, dengan potensi besar untuk terus dikembangkan. Ia menegaskan Danau Matano bukan sekadar danau biasa bagi warga Luwu Timur.

“Danau Matano juga bukan danau biasa, tapi kebanggaan kita yang punya keindahan luar biasa dan harus dijaga bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah tengah mendorong pengusulan kawasan tersebut sebagai Geopark Nasional. Potensi yang dimiliki cukup lengkap, mulai dari geosite, biosite berupa flora dan fauna, hingga culturesite yang tersebar di berbagai titik Luwu Timur dan paling banyak terkonsentrasi di Kecamatan Nuha.

Pulau Empat disebut sebagai salah satu situs jejak geologi penting, sementara Danau Matano dikenal luas sebagai salah satu danau terdalam di Asia Tenggara. Menurut Andi Tabacina, peran pengelola dan masyarakat setempat sangat menentukan keberlanjutan pengenalan potensi ini ke publik yang lebih luas.

“Kalau bukan kita yang jaga dan perkenalkan, siapa lagi. Danau Matano ini sudah indah, tinggal bagaimana kita rawat bersama,” tambahnya.

Padungku Jadi Ajang Syukur Sekaligus Dorong UMKM

Camat Nuha, Arief Fadillah Amier, mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga kelestarian Danau Matano dari tahun ke tahun. Ia menerangkan bahwa Padungku merupakan kegiatan tahunan yang digelar di setiap desa sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh.

Lebih jauh, Arief berharap perhelatan budaya semacam ini turut mendongkrak sektor pariwisata dan menggerakkan UMKM lokal. Semangat menghadirkan generasi muda yang tangguh juga tampak pada berbagai program pembinaan di Luwu Timur, sebagaimana diulas dalam program penggemblengan 70 pemuda Lutim menjadi calon pemimpin masa depan.

“Kita ingin orang luar datang melihat langsung keindahan Danau Matano dan mengenal budaya yang ada di sini,” terang Arief.

Rangkaian Padungku Danau Matano sejak hari pertama diramaikan berbagai lomba dan hiburan rakyat. Ada tari Momaani, wisata kuliner, booth UMKM, lomba perahu dayung dan bangka-bangka, hingga aneka permainan tradisional yang melibatkan warga lintas generasi.

Baca juga: Wabup Puspawati Tekankan Peran Orang Tua Lindungi Anak dari Dampak Penggunaan Gawai.

Dengan rangkaian kegiatan yang konsisten digelar setiap tahun, Padungku diharapkan tidak hanya menjadi ritus syukur, tetapi juga jembatan memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Nuha ke tingkat yang lebih luas. Upaya menjadikan kawasan ini sebagai Geopark Nasional pun sejalan dengan semangat menjaga Danau Matano sebagai warisan yang harus dirawat lintas generasi. MI/AS

Sumber: Warta Lutim