Merekamindonesia – Seorang penumpang berdiri mematung di depan meja bufet yang nyaris kosong. Piring-piring bekas belum diangkat, mesin kopi berkedip tanda rusak, dan satu-satunya kursi kosong sudah diduduki tas orang lain. Pemandangan seperti ini makin sering muncul di lini masa media sosial, dan ia jadi simbol paradoks yang sedang terjadi: kualitas lounge bandara justru menurun tepat ketika pintu masuknya dibuka lebih lebar dari sebelumnya.
Poin Penting
- Akses lounge bandara makin mudah lewat kartu kredit dan aplikasi seperti Priority Pass.
- Survei JD Power menunjukkan sekitar 20 persen pengguna masuk lewat status frequent flyer, 20 persen lewat kartu kredit, dan kurang dari 10 persen membeli day pass.
- Banyak traveler mengeluh soal bufet dingin, mesin kopi rusak, slot pengisi daya penuh, hingga antrean panjang.
- Sebagian lounge kelas atas justru menambah fasilitas mewah seperti hot tub, sementara yang lain memangkas layanan jadi konsep grab and go.
Dulu, lounge bandara adalah ruang privilese yang hampir mustahil disentuh penumpang kelas ekonomi. Pintunya hanya terbuka untuk pemegang tiket kelas satu atau bisnis, dan maskapai jadi satu-satunya penjaga gerbang. Kini, dompet berisi kartu kredit tertentu atau aplikasi keanggotaan sudah cukup untuk melewati pintu yang dulu terasa eksklusif itu.
Kelas Menengah Ikut Menikmati Fasilitas
Mei Mei Song, chief transformation officer Plaza Premium Group yang mengoperasikan lounge dan layanan concierge di berbagai bandara dunia, melihat perubahan ini sebagai cerminan pergeseran ekonomi. “Perjalanan meningkat signifikan. Ini kebangkitan kelas menengah,” katanya, dikutip dari CNN. Menurutnya, pasar lounge kini mulai bervariasi mengikuti profil konsumen yang makin beragam, bukan lagi monopoli kalangan atas.
Data dari survei JD Power memperkuat gambaran itu. Sekitar 20 persen pengguna lounge masuk berdasarkan status frequent flyer maskapai, sekitar 20 persen lain lewat benefit kartu kredit, dan kurang dari 10 persen membeli day pass secara langsung. Sisanya, kira-kira separuh dari total pengguna, tetap memegang tiket kelas satu atau bisnis sebagai jalur masuk konvensional.
Ketika Kualitas Lounge Bandara Tak Sebanding dengan Harapan
Masalahnya, kemudahan akses ini tidak diikuti perbaikan layanan. Justru sebaliknya. Di media sosial, keluhan soal lounge yang mengecewakan bertebaran: bufet dingin dengan sisa-sisa makanan, mesin kopi yang macet, slot pengisi daya yang selalu terisi orang lain, hingga kursi kosong yang susah didapat.
“Lounge bandara bukan gaya-gayaan seperti yang kamu kira,” ucap TikToker Izzy Anaya dalam video yang menampilkan bufet lesu di sebuah lounge.
Keluhan soal slot pengisi daya yang penuh ini juga jadi masalah tersendiri bagi traveler yang mengandalkan gawai untuk memantau jadwal penerbangan. Soal boros daya perangkat pun kadang datang bukan cuma dari fasilitas lounge, tapi juga dari aplikasi ponsel yang diam-diam menguras baterai selama menunggu keberangkatan.
Eric Gao, pemilik akun TikTok yang membahas trik perjalanan, punya cerita lain. Juni lalu ia mengunggah video antrean masuk lounge berlabel Chase Sapphire yang mengular panjang. “Bayangkan membayar US$795 per tahun, setara Rp14,33 juta dengan kurs Rp18.029, cuma supaya saya bisa antre di bandara,” katanya.
Tyler Dillon, spesialis perjalanan asal Kanada yang juga berprofesi sebagai profesor, akhirnya menyerah dan berhenti total memakai lounge. “Lounge-lounge ini tidak sama. Lebih mirip kapal pesiar,” ujarnya, menggambarkan betapa timpangnya standar antara satu lounge dengan lounge lain.
Lounge Mewah di Satu Sisi, Grab and Go di Sisi Lain
Kyle Olsen, penulis topik lounge untuk situs mitra CNN, Underscored, menyebut lounge kini tak lagi setara satu sama lain. Sebagian lounge kelas atas menambah fasilitas seperti hot tub pribadi dan perawatan kulit, sementara sebagian lain justru merilis konsep grab and go untuk mengambil makanan secara cepat tanpa duduk lama.
“Itu tidak benar-benar lebih baik dibanding sekadar membeli yogurt parfait seharga US$15, atau setara Rp270.435 dengan kurs Rp18.029, lalu langsung ke gerbang keberangkatan,” jelas Olsen soal konsep grab and go tersebut. Baginya, jalan pintas semacam ini tak selalu menghadirkan nilai lebih bagi penumpang.
Namun Olsen menolak gagasan bahwa solusinya adalah membuat lounge kembali eksklusif dan sulit dijangkau. “Menurut saya lounge semestinya bisa diakses lebih banyak orang. Saya tidak setuju kalau itu cuma disediakan untuk orang-orang yang duduk di first class,” tegasnya.
Perdebatan ini pada akhirnya bukan cuma soal fasilitas makan atau kursi kosong. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih besar: apakah kenyamanan bisa tetap terjaga saat sesuatu yang dulu eksklusif kini dinikmati jauh lebih banyak orang. Bagi sebagian traveler, jawabannya mungkin sederhana, mereka cukup datang lebih awal, atau justru berhenti berharap terlalu banyak dari sebuah ruang tunggu yang dulu terasa istimewa. MI/AS
Sumber: gaya hidup












