Merekamindonesia – Jam sudah menunjukkan pukul 23.30, tapi ponsel masih menyala di tangan. Bukan karena pekerjaan mendesak, melainkan kebiasaan yang sulit dihentikan: scroll media sosial sambil menahan kantuk yang sebenarnya sudah menumpuk sejak siang. Banyak orang Indonesia mengenali pola ini, dan diam-diam menyadari bahwa yang lelah bukan cuma badan, tapi juga kepala dan hati. Kesadaran semacam itu kini mulai tercermin dalam data, bahwa kesehatan mental perlahan naik kelas menjadi perhatian utama, sejajar dengan kesehatan fisik.
Poin Penting
- 91 persen responden Indonesia menilai kesehatan holistik (fisik, mental, emosional) sangat penting
- Kualitas nutrisi (50%), tidur (49%), dan kesehatan mental (46%) jadi aspek yang paling ingin diperbaiki
- 74 persen menilai kesehatan mentalnya baik, 66 persen merasa kesejahteraan emosionalnya meningkat dalam tiga tahun
- Keterbatasan waktu (48%) dan tuntutan pekerjaan (36%) jadi hambatan terbesar menjalani gaya hidup sehat
Kesehatan Mental Kini Dianggap Setara dengan Fisik
Herbalife APAC Wellness Culture Survey 2026 mencoba menangkap perubahan cara pandang itu lewat angka. Hasilnya, 91 persen masyarakat Indonesia menilai kesehatan holistik, yang mencakup kondisi fisik, mental, dan emosional, sebagai hal yang sangat atau amat penting. Sebanyak 85 persen responden bahkan mengatakan urusan kesehatan holistik ini terasa lebih penting dibandingkan tiga tahun lalu.
Survei ini tidak kecil skalanya. Lebih dari 10.000 responden di 11 negara dan wilayah Asia Pasifik dilibatkan, dengan 1.002 di antaranya berasal dari Indonesia. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan lagi topik pinggiran yang dibahas sesekali, melainkan bagian yang mulai dianggap setara dengan urusan fisik dalam keseharian.
Nutrisi, Tidur, dan Kesehatan Mental Saling Berkaitan
Ketika ditanya aspek apa yang paling ingin ditingkatkan, jawaban responden Indonesia justru saling berdekatan. Kualitas nutrisi dan pola makan menempati posisi teratas dengan 50 persen suara. Kualitas tidur menyusul tipis di 49 persen, dan kesehatan mental berada di posisi ketiga dengan 46 persen.
Jarak antara ketiga angka itu tipis, dan itu bukan kebetulan. Pola makan yang buruk sering berujung pada tidur yang tidak nyenyak, sementara tidur yang berantakan biasanya memperberat beban pikiran esoknya. Baca juga: 5 Tanda Stres Kronis di Kulit yang Sering Diabaikan, yang menunjukkan bagaimana tekanan pikiran bisa muncul lewat tanda fisik yang selama ini tak disadari.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, menilai temuan ini sebagai pergeseran cara masyarakat memandang hidup sehat. “Kini, semakin banyak orang menyadari bahwa hidup sehat tidak hanya berarti aktif secara fisik, tetapi juga menjaga kesehatan mental, emosional, dan pola nutrisi secara seimbang,” katanya dalam keterangan resmi.
Optimisme di Tengah Beban Waktu dan Pekerjaan
Menariknya, penilaian masyarakat terhadap kondisi kesehatannya sendiri cukup positif. Sebanyak 77 persen responden menilai kesehatan fisiknya berada dalam kategori baik atau sangat baik. Sementara itu, 74 persen menilai kesehatan mentalnya dalam kondisi baik, dan 66 persen merasa kesejahteraan emosionalnya juga baik.
Tren perbaikan tiga tahun terakhir juga terlihat jelas. Sebanyak 63 persen responden melaporkan kesehatan fisiknya membaik, sementara masing-masing 66 persen mencatat peningkatan pada kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat optimisme tertinggi di Asia Pasifik soal kondisi kesehatan pribadi.
Namun optimisme itu tidak lantas berarti semuanya mudah dijalani. Keterbatasan waktu masih jadi hambatan terbesar bagi 48 persen responden, disusul tuntutan pekerjaan yang dirasakan 36 persen orang. Rutinitas yang padat sering membuat niat menjaga kesehatan mental kandas di tengah jalan, kalah oleh deadline dan jam kerja yang molor.
Dukungan Lingkungan Jadi Penopang
Di tengah keterbatasan itu, dukungan dari orang-orang terdekat justru jadi faktor penentu. Keluarga, teman, dan media sosial disebut sebagai pihak yang paling berpengaruh dalam menjaga motivasi seseorang untuk tetap menjalani pola hidup sehat. Tanpa dukungan semacam itu, niat baik sering kali kandas begitu ada tekanan kecil dari pekerjaan atau urusan sehari-hari.
Oktrianto menyebut membangun kesehatan holistik sebagai perjalanan panjang yang menuntut konsistensi, bukan solusi instan. Kombinasi nutrisi yang tepat, gaya hidup aktif, dan dukungan komunitas dinilai menjadi kunci agar kebiasaan sehat bisa dipertahankan dalam jangka panjang. “Seiring berkembangnya budaya hidup sehat, penting bagi kita untuk terus membangun komunitas yang suportif dan memiliki pengetahuan yang memadai agar kesehatan menjadi lebih mudah diakses, lebih personal, dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kembali ke gambaran orang yang masih menatap layar ponsel jelang tengah malam itu, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar niat untuk tidur lebih awal. Data dari survei ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental butuh ekosistem: pola makan yang lebih baik, tidur yang cukup, dan orang-orang di sekitar yang mau saling menopang. Perubahan besar dalam cara masyarakat memandang kesehatan biasanya memang dimulai dari hal-hal kecil semacam itu, yang diulang setiap hari sampai jadi kebiasaan. MI/AS
Sumber: gaya hidup












