Merekamindonesia – Setiap siang, seorang perempuan paruh baya di sebuah kantor menenggak sekaleng soda diet sambil menyelesaikan laporan. Ia merasa lebih aman karena minuman itu diberi label rendah kalori, tanpa gula tambahan. Namun sebuah penelitian terbaru mengingatkan bahwa kebiasaan kecil semacam itu, jika dilakukan bertahun-tahun, bisa berkaitan dengan pemanis buatan penuaan otak yang datang lebih cepat dari perkiraan.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada Juli 2026 ini menelusuri jejak konsumsi tujuh jenis pemanis rendah kalori dan tanpa kalori pada hampir 13 ribu orang. Selama delapan tahun, para peneliti memantau bagaimana otak para partisipan bekerja: mengingat kata, memproses informasi, hingga menyusun kalimat secara lancar.
Poin Penting
- Studi di jurnal Neurology mengamati 12.772 orang berusia rata-rata 52 tahun selama sekitar 8 tahun.
- Tujuh pemanis yang diteliti: aspartam, sakarin, asesulfam K, eritritol, xylitol, sorbitol, dan tagatose.
- Kelompok konsumsi pemanis tertinggi mengalami penurunan kognitif 62 persen lebih cepat, setara 1,6 tahun penuaan otak.
- Enam dari tujuh pemanis terkait penurunan fungsi otak, kecuali tagatose yang belum menunjukkan efek serupa.
Angka di Balik Studi Pemanis Buatan dan Penuaan Otak
Claudia Kimie Suemoto dari Universitas São Paulo, Brasil, salah satu penulis studi ini, mengatakan pemanis rendah kalori kerap dipandang sebagai jalan aman menghindari gula. Tapi menurutnya, temuan terbaru justru memperlihatkan sisi lain dari anggapan itu.
“Pemanis rendah kalori dan tanpa kalori sering dianggap sebagai alternatif sehat untuk gula, tetapi temuan kami menunjukkan pemanis tertentu mungkin memiliki efek negatif pada kesehatan otak dari waktu ke waktu,” kata Suemoto, seperti dilansir ScienceDaily.
Sebanyak 12.772 peserta dengan usia rata-rata 52 tahun dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan total asupan pemanis harian mereka. Kelompok dengan konsumsi terendah rata-rata hanya mengasup 20 miligram per hari, sedangkan kelompok tertinggi mencapai 191 miligram per hari. Sebagai gambaran, jumlah aspartam pada kelompok tertinggi itu kira-kira setara dengan kandungan aspartam dalam satu kaleng soda diet, sementara sorbitol tercatat sebagai pemanis yang paling banyak dikonsumsi dengan rata-rata 64 miligram per hari.






