Secara keseluruhan, laba operasional Samsung tercatat 89,5 triliun won, sementara pendapatan naik 130 persen menjadi 171,5 triliun won. Bahkan, laba kuartalan ini melampaui gabungan pendapatan perusahaan selama tiga tahun terakhir, dengan posisi kas bersih mencapai 167 triliun won pada akhir Juni.
Namun performa cemerlang itu tak lantas mendongkrak harga saham. Saham Samsung sempat melesat hingga 8,4 persen sebelum akhirnya ditutup melemah 0,7 persen. Saham rival utamanya, SK Hynix, bahkan anjlok 5,6 persen pada hari yang sama.
Kekhawatiran Investor dan Bisnis Ponsel yang Tertekan
Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, menilai investor mulai skeptis terhadap keberlanjutan margin tinggi Samsung. “Narasi chip telah melemah. Investor mempertanyakan berapa lama margin tertinggi mereka dapat dipertahankan,” katanya.
Kekhawatiran itu juga dipicu oleh besarnya belanja infrastruktur AI dari perusahaan teknologi global serta meningkatnya persaingan dari China. Ironisnya, harga chip yang tinggi justru membebani lini bisnis lain milik Samsung sendiri. Divisi perangkat seluler mencatat kerugian 700 miliar won, kerugian kuartalan pertama bagi divisi tersebut.
“Chip yang memperkaya satu sisi Samsung kini merugikan sisi lainnya,” kata analis eToro, Josh Gilbert. Ia menambahkan, kondisi ini membuat Samsung semakin bergantung pada harga chip memori dan keberlanjutan permintaan dari perusahaan pusat data berskala besar.
Baca juga: Desa Digital Luwu Timur: Indosat Wujudkan Transformasi Internet, contoh bagaimana kebutuhan infrastruktur digital juga merambah ke daerah.
Dengan proyeksi kelangkaan chip global yang masih panjang hingga 2028, Samsung tampak berupaya mengunci kepastian pasokan lewat kontrak jangka panjang. Namun perusahaan juga harus menyeimbangkan keuntungan besar dari bisnis memori dengan tekanan yang dialami divisi lain akibat mahalnya harga komponen tersebut. MI/AS
Sumber: teknologi






