Merekamindonesia – Kelangkaan chip global diperkirakan belum akan reda dalam waktu dekat. Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar dunia, memproyeksikan krisis pasokan semikonduktor ini bakal terus berlangsung hingga 2028 seiring melonjaknya kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Poin Penting
- Samsung memperkirakan kelangkaan chip global berlanjut hingga 2028 karena permintaan pusat data AI terus meningkat.
- Perusahaan sudah meneken kontrak pasokan jangka panjang dengan lima operator pusat data raksasa dan mendekati kesepakatan dengan lima lainnya.
- Unit semikonduktor Samsung membukukan margin laba operasional 70 persen dengan laba 89,2 triliun won pada kuartal II.
- Di sisi lain, divisi ponsel Samsung justru merugi 700 miliar won akibat mahalnya harga chip.
Kontrak Jangka Panjang Jadi Strategi Samsung
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Samsung mulai mengunci pasokan lewat perjanjian jangka panjang. Perusahaan telah menandatangani kesepakatan dengan lima perusahaan pusat data terbesar di dunia, dan tengah mendekati kesepakatan serupa dengan lima perusahaan besar lainnya. Sayangnya, identitas para mitra tersebut tidak diungkap ke publik.
Wakil Presiden Eksekutif Bisnis Memori Samsung, Jaejune Kim, mengatakan hampir seluruh pelanggan kini meminta kontrak multi-tahun. “Hampir semua pelanggan meminta kontrak pasokan selama beberapa tahun,” ujarnya dalam panggilan laporan keuangan, dikutip dari Reuters, Kamis (30/7).
Samsung menargetkan agar kontrak jangka panjang ini mencakup sekitar dua pertiga dari total produksi memorinya. Menurut Kim, durasi kontrak minimal lima tahun dan umumnya sudah menyertakan pembayaran di muka serta batas harga minimum. Skema ini dirancang untuk meredam risiko investasi modal sekaligus mengurangi dampak siklus naik-turun industri chip.
Laba Melonjak, tapi Saham Justru Melemah
Di tengah proyeksi kelangkaan chip global yang makin ketat, kinerja keuangan Samsung justru melesat. Unit semikonduktor perusahaan mencatat margin laba operasional sebesar 70 persen pada kuartal II, dengan laba operasional mencapai 89,2 triliun won atau sekitar 61,7 miliar dolar AS. Angka ini melonjak lebih dari 250 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, laba operasional Samsung tercatat 89,5 triliun won, sementara pendapatan naik 130 persen menjadi 171,5 triliun won. Bahkan, laba kuartalan ini melampaui gabungan pendapatan perusahaan selama tiga tahun terakhir, dengan posisi kas bersih mencapai 167 triliun won pada akhir Juni.
Namun performa cemerlang itu tak lantas mendongkrak harga saham. Saham Samsung sempat melesat hingga 8,4 persen sebelum akhirnya ditutup melemah 0,7 persen. Saham rival utamanya, SK Hynix, bahkan anjlok 5,6 persen pada hari yang sama.
Kekhawatiran Investor dan Bisnis Ponsel yang Tertekan
Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, menilai investor mulai skeptis terhadap keberlanjutan margin tinggi Samsung. “Narasi chip telah melemah. Investor mempertanyakan berapa lama margin tertinggi mereka dapat dipertahankan,” katanya.
Kekhawatiran itu juga dipicu oleh besarnya belanja infrastruktur AI dari perusahaan teknologi global serta meningkatnya persaingan dari China. Ironisnya, harga chip yang tinggi justru membebani lini bisnis lain milik Samsung sendiri. Divisi perangkat seluler mencatat kerugian 700 miliar won, kerugian kuartalan pertama bagi divisi tersebut.
“Chip yang memperkaya satu sisi Samsung kini merugikan sisi lainnya,” kata analis eToro, Josh Gilbert. Ia menambahkan, kondisi ini membuat Samsung semakin bergantung pada harga chip memori dan keberlanjutan permintaan dari perusahaan pusat data berskala besar.
Baca juga: Desa Digital Luwu Timur: Indosat Wujudkan Transformasi Internet, contoh bagaimana kebutuhan infrastruktur digital juga merambah ke daerah.
Dengan proyeksi kelangkaan chip global yang masih panjang hingga 2028, Samsung tampak berupaya mengunci kepastian pasokan lewat kontrak jangka panjang. Namun perusahaan juga harus menyeimbangkan keuntungan besar dari bisnis memori dengan tekanan yang dialami divisi lain akibat mahalnya harga komponen tersebut. MI/AS
Sumber: teknologi












