Politik

IJTI Kecam Hotman Paris soal Sikap ke Jurnalis

×

IJTI Kecam Hotman Paris soal Sikap ke Jurnalis

Sebarkan artikel ini
ijti kecam hotman paris
Dok. Istimewa

Merekamindonesia – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) resmi mengecam pernyataan Hotman Paris Hutapea yang dinilai merendahkan profesi jurnalis. Sikap itu muncul setelah kuasa hukum mantan Jampidsus Febrie Adriansyah tersebut melontarkan ucapan bernada melecehkan kepada seorang wartawan saat menjalankan tugas di Kejaksaan Agung. Reaksi IJTI kecam Hotman Paris disampaikan Ketua Umum Herik Kurniawan melalui keterangan tertulis pada Senin (20/7).

Menurut Herik, organisasi menolak segala bentuk tindakan, baik verbal maupun non-verbal, yang menyudutkan kerja jurnalistik di lapangan. Ia menegaskan pihaknya berdiri membela marwah profesi wartawan.

“Mengecam segala bentuk tindakan verbal maupun non-verbal dari pihak mana pun, yang merendahkan marwah profesi jurnalis,” kata Herik Kurniawan.

IJTI Kecam Hotman Paris, Tegaskan Pers Dilindungi Undang-Undang

Herik menekankan bahwa kebebasan pers merupakan salah satu pilar utama demokrasi yang keberadaannya dijamin oleh undang-undang. Ia mengingatkan bahwa jurnalis tidak bekerja demi kepentingan pribadi, melainkan untuk memenuhi hak publik atas informasi yang benar, berimbang, dan akurat.

Ia juga menilai pertanyaan kritis maupun tajam yang diajukan wartawan kepada narasumber bukanlah bentuk intimidasi. Menurutnya, aktivitas semacam itu justru bagian dari tanggung jawab profesi.

“Menanyakan informasi adalah kewajiban profesi jurnalis untuk menghasilkan produk berita yang berimbang cover both sides,” ujar Herik.

Dalam pandangan IJTI, kerja jurnalis tidak berjalan tanpa rambu. Setiap wartawan terikat pada Kode Etik Jurnalistik yang mengatur cara memperoleh dan menyajikan informasi.

Aturan dalam Kode Etik Jurnalistik

Herik merujuk sejumlah pasal yang menjadi pedoman kerja wartawan di Indonesia. Ia menyebut kewajiban menguji informasi dan bersikap independen tercantum jelas dalam ketentuan tersebut.

  • Pasal 1: “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk.”
  • Pasal 3: “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Herik mengingatkan pentingnya etika komunikasi antarprofesi. Menurutnya, melontarkan pernyataan yang merendahkan pekerjaan orang lain sama saja mencederai nilai profesionalisme.