
Di lini kedua, pada waktu dan tempat yang sama, 27 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Luwu Timur dan Luwu Utara disiapkan menjadi arsitek di balik layar. Mereka dibekali kemampuan pemetaan pasar dunia, pemasaran digital lintas negara, hingga teknik business matching.
Aswan Azis menegaskan, ini adalah terjemahan nyata dari Program Unggulan Pemkab, PANDU JUARA.
“Kita tidak bisa hanya mencetak produk bagus tapi tidak punya pendamping yang paham regulasi pasar tujuan. Atau sebaliknya, aparatur paham pasar global tapi pelaku usaha belum siap. Keduanya harus kita siapkan bersamaan dalam satu ekosistem yang solid,” tegas Aswan.
Menurutnya, inilah kunci untuk mentransformasi komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang berdaya saing.
Menariknya, konsep pioneering ini tercatat sebagai yang pertama di Indonesia yang diinisiasi Kementerian Perdagangan RI melalui Bapekomdag dengan kolaborasi segitiga: Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan dunia industri melalui PT Vale Indonesia Tbk.
Sinergi ini tidak sekadar pelatihan tiga hari. Ini adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan eksportir-eksportir baru dari desa, dari BUMDes dan UMKM lokal Luwu Timur yang selama ini memendam potensi besar untuk pasar dunia.
Mi/And






