Breaking News

Refleksi Sumpah Pemuda ke-98, Rusdi Layong, S.T., M.Si. Ingatkan Pentingnya Menjadi Pemuda Yang Berkelas dengan Otak Kritis dan Hati Etis

×

Refleksi Sumpah Pemuda ke-98, Rusdi Layong, S.T., M.Si. Ingatkan Pentingnya Menjadi Pemuda Yang Berkelas dengan Otak Kritis dan Hati Etis

Sebarkan artikel ini
Refleksi Sumpah Pemuda ke-98, Rusdi Layong, S.T., M.Si. Ingatkan Pentingnya Menjadi Pemuda Yang Berkelas dengan Otak Kritis dan Hati Etis
Dok. Merekam Indonesia

MerekamIndonesia.com – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 dimaknai secara mendalam oleh Anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur, Rusdi Layong S.T., M.Si.

Bagi kader Partai Gelombang Rakyat Indonesia (GELORA) tersebut, makna kritis selama ini sering disalahartikan sebagai keberanian untuk bersuara keras. Padahal, kritis yang sesungguhnya jauh lebih berkelas, yakni kritis yang beradab.

Hal itu disampaikan Rusdi Layong dalam refleksi kebangsaan Sumpah Pemuda bertema “Mengenang Ikrar 1928, Menjemput Arah Baru Indonesia”, Selasa (28/10/2026).

Menurut Rusdi, generasi muda saat ini sedang menghadapi fenomena inflasi kritik. Banyak yang merasa sudah kritis hanya karena berani meluapkan amarah di media sosial, padahal sejatinya masih berada pada tahap reaktif.

“Pemuda reaktif itu marah dulu, baru mencari data. Pemuda kritis itu mencari data dulu, baru bersikap. Pemuda reaktif menyerang orangnya, pemuda kritis menyerang masalahnya. Kita membutuhkan yang kedua,” ujarnya.

Lebih jauh, Rusdi menegaskan bahwa etika harus tetap menjadi fondasi di tengah luasnya kebebasan berpendapat. Baginya, etika bukanlah simbol kelemahan, melainkan penanda kelas dan kekuatan karakter.

“Hanya orang kuat yang mampu tetap santun saat dia punya kesempatan untuk menghina. Hanya orang cerdas yang mampu tetap halus saat dia bisa memaki. Etika adalah pembeda antara pejuang dan perusuh,” tegasnya.

Pejuang, kata Rusdi, mengkritik kebijakan dengan data dan membuka ruang diskusi. Sementara perusuh mengkritik pribadi dengan dusta dan menutup diskusi dengan kebencian.