MerekamIndonesia.com – Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk menguji apakah sebuah komitmen tinggal sebagai janji, atau menjelma menjadi kebijakan yang bekerja dan dirasakan manfaatnya secara langsung.
Di Luwu Timur, periode 2025-2026 memberikan jawabannya. Di bawah kepemimpinan Bupati Irwan Bachri Syam dan Wakil Bupati Hj. Puspawati Husler, orientasi pembangunan digeser dengan tegas: dari sekadar infrastruktur fisik menuju investasi pada manusia. Program-program yang dulu menjadi konsep, hari ini memiliki angka realisasi dan manfaatnya dirasakan di tengah masyarakat.
Tiga Pilar yang Menopang Harapan: Pintar, Sehat, dan Lansia
Arsitektur utama dari gerakan ini adalah Tiga Kartu Sakti. Program ini dipetakan dengan presisi untuk menjawab persoalan paling mendasar di masyarakat.
Hingga penghujung 2025, Kartu Lutim Pintar telah direalisasikan dalam bentuk beasiswa pendidikan tinggi bagi 9.878 mahasiswa dan bantuan seragam sekolah gratis bagi 16.253 siswa SD-SMP. Ini adalah intervensi nyata agar tidak ada anak yang berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.
Kartu Lutim Sehat mencatat layanan kepada 422.183 jiwa dengan kebijakan terobosan: seluruh biaya rujukan pasien ke Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Makassar ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah melalui APBD.
Untuk memperkuat layanan, pemerintah daerah membangun Laboratorium Kesehatan Daerah senilai Rp13,42 miliar dan mengaktifkan layanan kegawatdaruratan PSC 119 selama 24 jam. Hasilnya, usia harapan hidup warga Luwu Timur naik menjadi 74,86 tahun.
Yang menjadi pembeda, Kartu Lansia dengan 2.808 penerima terdaftar. Luwu Timur menjadi satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki jaring pengaman sosial khusus lansia yang terstruktur. Pemerintah daerah hadir sampai di ujung usia.
Dari Ruang Kelas hingga Pasar Kerja, Jembatan Itu Telah Tersambung
Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Luwu Timur di bawah Amran Akmal memahami bahwa akses pendidikan harus terus dibuka seluas-luasnya. Pada Oktober 2026, sosialisasi Beasiswa Lutim Juara digelar hingga ke Kecamatan Burau dan Wotu, untuk memastikan informasi sampai secara akurat kepada mahasiswa dan orang tua sebelum pendaftaran daring ditutup pada 31 Oktober 2026.
Pemerintah daerah juga menyiapkan jembatan menuju dunia kerja. Program Mandalish (Kursus Bahasa Mandarin dan Inggris) disiapkan agar pemuda lokal mampu bersaing sebagai penerjemah dan pendamping investor.






