Merekamindonesia – Kasus chatgpt rencanakan pembunuhan mengguncang Wayland, Massachusetts, setelah seorang remaja berusia 17 tahun diduga membunuh ibu dan adiknya sendiri. Arjun Aravind ditangkap polisi pada Rabu pagi, 12 Agustus, tak lama setelah kejadian tragis itu terungkap. Penyidik menemukan jejak digital yang mengarah pada penggunaan chatbot kecerdasan buatan sebelum aksi kekerasan terjadi.
Poin Penting
- Arjun Aravind (17) diduga membunuh ibunya Sudha Venkatesan (45) dan adiknya Siddharth Aravind (14) di Wayland, Massachusetts.
- Jaksa menyebut Arjun memakai ChatGPT untuk merancang skenario kekerasan yang disamarkan sebagai cerita fiksi bergaya novel gotik.
- Penangkapan berlangsung Rabu pagi, 12 Agustus, saat sang ayah sedang tidak berada di rumah.
- Kasus ini menambah daftar dugaan keterlibatan chatbot AI dalam rencana kejahatan, termasuk kasus terdakwa Hisham Abugharbieh di Florida.
Skenario Fiksi yang Berujung Tragedi
Jaksa Wilayah Middlesex County, Marian Ryan, mengungkapkan bahwa Arjun sempat menunjukkan perilaku mengkhawatirkan sebelum peristiwa itu terjadi. Ia disebut mencari ide lewat internet dan ChatGPT, lalu membungkusnya dalam bentuk cerita rekaan.
“Dia menggunakan ChatGPT untuk menciptakan cerita fantasi, semacam novel gotik, mengajukan pertanyaan, menciptakan karakter-karakter, bertanya apa yang terjadi jika ini dan itu, dan ini nampaknya berkaitan dengan ancaman terhadap keluarganya,” kata Ryan, seperti dikutip dari NBC News, Kamis (13/8). Menurutnya, pola pertanyaan yang diajukan Arjun ke chatbot tersebut mengarah langsung pada rencana kekerasan terhadap keluarganya sendiri, bukan sekadar imajinasi kosong.
OpenAI Belum Buka Suara
Hingga berita ini disusun, OpenAI selaku perusahaan pengembang ChatGPT belum memberikan tanggapan resmi atas kasus tersebut. Padahal perusahaan ini sempat mengumumkan komitmen mengutamakan keselamatan pengguna remaja pada pembaruan kebijakan Desember lalu.
OpenAI mengklaim telah menyempurnakan spesifikasi model AI-nya agar merespons lebih hati-hati terhadap situasi berisiko tinggi, khususnya yang melibatkan pengguna di bawah 18 tahun. Namun kasus chatgpt rencanakan pembunuhan ini justru menimbulkan pertanyaan besar soal efektivitas pagar pengaman tersebut di lapangan.
Baca juga: 91% Warga RI Sebut Kesehatan Mental Sepenting Fisik
Bukan Kasus Pertama Chatbot Terseret Kejahatan
Insiden semacam ini bukan yang pertama. Awal tahun ini, seorang pria Florida bernama Hisham Abugharbieh yang menjadi terdakwa pembunuhan dua mahasiswa juga diketahui memakai ChatGPT, bahkan menanyakan cara membuang jasad korban. Sejumlah jaksa penuntut kini mulai menyoroti tanggung jawab perusahaan AI dalam kasus-kasus seperti ini.
Laporan Center for Countering Digital Hate yang terbit Maret lalu turut memperkuat kekhawatiran tersebut. Riset itu menemukan bahwa delapan dari sepuluh chatbot AI populer justru bersedia membantu peneliti yang menyamar sebagai remaja laki-laki dalam merancang skenario kekerasan, mulai dari penembakan sekolah, serangan pisau, pembunuhan tokoh politik, hingga pengeboman.
Pengawasan Anak dan Batas Teknologi
Kasus Arjun Aravind menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap interaksi remaja dengan chatbot AI masih jauh dari memadai. Fitur keselamatan yang diklaim perusahaan teknologi belum tentu mampu mendeteksi niat jahat yang dibungkus rapi dalam bentuk cerita fiksi.
Penyidik di Massachusetts kini masih mendalami motif pasti di balik pembunuhan Sudha Venkatesan dan Siddharth Aravind. Sementara itu, publik menunggu respons resmi OpenAI serta langkah konkret apa yang akan diambil untuk mencegah chatbot disalahgunakan sebagai alat merancang kejahatan serupa di masa depan. MI/AS
Sumber: teknologi












