Cerita Indonesia

ASI Eksklusif Indonesia: Sepertiga Bayi Masih Terlewat, Ini Kata IDAI

×

ASI Eksklusif Indonesia: Sepertiga Bayi Masih Terlewat, Ini Kata IDAI

Sebarkan artikel ini
asi eksklusif indonesia
Dok. Istimewa

Promosi Susu Formula dan Bayang-Bayang Kesalahan Ibu

Selain soal pekerjaan, Naomi menyoroti gencarnya promosi susu formula sebagai hambatan tersendiri. Menurutnya, iklan dan tawaran susu formula yang masif turut menekan angka menyusui di masyarakat.

Yang tak kalah penting, Naomi mengingatkan bahwa kegagalan menyusui bukan semata kesalahan ibu. Ia melihat masih banyak yang menyalahkan ibu ketika ASI eksklusif tidak tercapai, padahal keluarga inti punya andil besar.

“Yang perlu diedukasi bukan cuma ibunya, karena banyak orang menyalahkan ibunya kalau gagal menyusui. Padahal kita juga perlu mengedukasi keluarga inti terutama suami untuk mendukung, karena ibu-ibu kadang-kadang mau menyusui, tapi direcoki suami atau mertua,” imbuhnya.

Baca juga: Melahirkan Tanpa Ribet Urus Dokumen, Warga Luwu Timur Apresiasi Program IPBAL, sebuah contoh bagaimana kemudahan layanan bagi ibu melahirkan turut membantu awal perjalanan menyusui yang lebih tenang.

Peran Rumah Sakit lewat Baby-Friendly Hospital Initiative

Naomi menilai fasilitas kesehatan memegang peran krusial melalui program Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI). Program ini memuat sepuluh langkah, mulai dari edukasi tenaga kesehatan, penerapan rawat gabung atau rooming in, hingga larangan promosi susu formula di lingkungan rumah sakit.

“Kalau itu dijalankan di rumah sakit, itu akan dongkrak (angka keberhasilan menyusui ASI eksklusif) banget,” katanya. Ia menekankan bahwa peningkatan asi eksklusif indonesia tidak bisa mengandalkan satu pihak saja.

Menurutnya, semua elemen mesti bergerak bersama: dokter, bidan, keluarga, suami, pemerintah, tempat kerja, hingga media. “Intinya, semua dari kita mulai dari dokter, tenaga kesehatan, bidan, keluarga, suami, sampai pemerintah dan media punya peran untuk bisa menaikkan angka ini,” tutup Naomi.

Di balik statistik 66 persen itu, ada ribuan ibu yang masih berjuang sendirian—memerah ASI di toilet kantor, menghadapi komentar mertua, atau menyerah karena tak ada yang membantu. Angka bisa naik di atas kertas, tapi perjuangan sesungguhnya baru selesai ketika dukungan nyata hadir di setiap rumah dan tempat kerja. MI/AS

Sumber: gaya hidup