Merekamindonesia – Sebanyak 25 siswa SDN 251 Pae-Pae, Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, mengikuti program edukasi antiperundungan siswa SD yang digelar pada Kamis (30/7/2026). Kegiatan bertajuk JEJAK NUSA ini diinisiasi oleh Olivia Chintya Tandi Sau, mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, sebagai bagian dari Kuliah Kerja Nyata Tematik. Lewat permainan, diskusi kelompok, dan penyampaian materi ringan, anak-anak diajak memahami bahaya perundungan sejak usia dini.
Poin Penting
- Sebanyak 25 siswa SDN 251 Pae-Pae, Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, mengikuti edukasi antiperundungan pada Kamis (30/7/2026).
- Program bernama JEJAK NUSA ini digagas mahasiswi Ilmu Politik Unhas, Olivia Chintya Tandi Sau, lewat KKN Tematik.
- Siswa diajarkan mengenali bentuk perundungan seperti mengejek, mengucilkan, dan menyebar foto tanpa izin, serta didorong berani melapor.
- Selain antiperundungan, materi wawasan kebangsaan tentang Pancasila, gotong royong, dan toleransi juga disampaikan lewat cerita dan permainan.
Edukasi Antiperundungan Siswa SD Lewat Permainan
Di ruang kelas sederhana SDN 251 Pae-Pae, suasana belajar terasa berbeda dari biasanya. Bukan pelajaran hitung-hitungan atau membaca, melainkan permainan yang menyisipkan pesan tentang menghargai teman. Olivia memperkenalkan berbagai bentuk tindakan yang bisa menyakiti orang lain, mulai dari mengejek, memberi julukan buruk, mengucilkan teman dari kelompok, hingga menyebarkan cerita atau foto tanpa izin.
Para siswa juga diajak memahami bahwa candaan yang dilakukan berulang dan menimbulkan dampak buruk bagi orang lain sudah termasuk perundungan, bukan sekadar bercanda. Pesan ini penting agar anak-anak sejak dini bisa membedakan mana batas wajar dalam bergaul dan mana yang sudah melukai perasaan teman.
Selain diajak untuk tidak ikut-ikutan melakukan atau mendukung perundungan, siswa juga didorong berani membela teman yang menjadi korban. Mereka diajarkan untuk melaporkan kejadian yang mereka lihat kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang bisa dipercaya, bukan memilih diam.
Wawasan Kebangsaan Jadi Bekal Tambahan bagi Siswa
Program tidak berhenti pada isu antiperundungan saja. Olivia turut menyisipkan materi wawasan kebangsaan yang disesuaikan dengan usia anak sekolah dasar, mencakup nilai-nilai Pancasila, persatuan, gotong royong, hingga toleransi terhadap perbedaan.
Melalui cerita dan diskusi kelompok, siswa diajak melihat keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, karakter, maupun kemampuan sebagai hal yang wajar ditemui sehari-hari. Perbedaan itu, menurut materi yang disampaikan, semestinya tidak dijadikan alasan untuk saling merendahkan, melainkan modal untuk membangun kebersamaan di lingkungan sekolah maupun desa.
Bagian dari Rangkaian Kegiatan Positif KKN di Luwu Timur
Kegiatan di Pae-Pae ini menambah daftar program mahasiswa KKN Unhas yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat Luwu Timur, khususnya anak-anak dan generasi muda di wilayah pedalaman seperti Wasuponda. Semangat serupa juga terlihat dalam upaya penguatan kelompok rentan di daerah ini, seperti diulas dalam program pemberdayaan disabilitas di Luwu Timur.
Baca juga: 3 Pelaku Jual Beli Hutan Lindung Luwu Timur Dibekuk Kemenhut sebagai contoh isu lain yang juga menjadi perhatian masyarakat di kabupaten ini. MI/AS
Sumber: Tribun-timur.com












