Cerita Indonesia

Cuka Bau Kentut Guangdong Buat Pemiliknya Dilaporkan ke Polisi

×

Cuka Bau Kentut Guangdong Buat Pemiliknya Dilaporkan ke Polisi

Sebarkan artikel ini
cuka bau kentut guangdong
Dok. Istimewa

Merekamindonesia – Aroma yang menggugah perut bukan selalu pengalaman yang menyenangkan—terutama bagi tetangga yang hidup berdekatan. Di Guangdong, China, seorang pria bernama Chen mengalami kejadian yang cukup memalukan ketika cuka bau kentut Guangdong yang sedang ia masak membuat tetangganya curiga ada mayat yang membusuk di rumahnya.

Laporan Polisi Karena Aroma Cuka Tradisional

Cerita aneh ini dimulai ketika tetangga Chen mendengar bau yang sangat menyengat dari dapur rumahnya. Dikira ada sesuatu yang tidak wajar, tetangga langsung melaporkan ke polisi dengan dugaan bahwa ada seseorang yang telah meninggal dunia di dalam rumah Chen. Polisi pun datang dan melakukan pemeriksaan menyeluruh.

“Tetangga saya mengira saya sedang memasak ‘mayat’,” tulis Chen dalam akun media sosialnya, melansir South China Morning Post. Kenyataannya, Chen hanya sedang menyiapkan sup yang mengandung cuka dengan aroma yang sangat khas dan kuat.

Aroma yang memicu laporan ini berasal dari cuka tradisional yang dikenal dengan nama ‘chopi cu’, yang secara harfiah berarti ‘fart vinegar’ atau ‘cuka bau kentut’. Masyarakat setempat mengenalnya juga sebagai ‘cuka panjang umur’ lantaran manfaat kesehatannya yang dipercaya turun-temurun.

Poin Penting

  • Seorang pria dari Guangdong dilaporkan tetangganya ke polisi karena aroma cuka tradisional yang dicurigai bau mayat membusuk.
  • Cuka ‘chopi cu’ atau cuka bau kentut adalah warisan budaya tak benda Guangdong yang dipercaya memiliki manfaat kesehatan turun-temurun.
  • Proses pembuatan cuka melibatkan fermentasi kerak nasi selama tiga bulan dalam toples berisi air.
  • Cuka ini tradisional digunakan dalam masakan, terutama untuk pemulihan ibu menyusui, dan dipercaya meredakan panas saat musim panas.

Warisan Budaya dengan Cerita Legendaris

Cuka bau kentut bukanlah produk yang muncul begitu saja. Berdasarkan legenda yang beredar di Guangdong, cuka ini berasal dari pengalaman seorang pria miskin. Ceritanya dimulai ketika ia menyimpan kerak nasi dalam sebuah toples sebagai persediaan makan untuk ibunya yang sedang sakit.

Karena atap rumah mereka yang tidak layak, tempayan itu terisi air hujan. Akibatnya, kerak nasi di dalamnya menjalani proses fermentasi alami dan mengeluarkan bau yang sangat busuk. Akan tetapi, ketika nasi fermentasi itu dimasak dan diberikan pada sang ibu, secara ajaib ibunya sembuh dari sakitnya yang telah berlangsung lama.

Dari pengalaman itulah, orang-orang mulai menganggap bahwa cairan berbau busuk tersebut memiliki khasiat penyembuhan khusus. Kini, cuka tersebut telah diakui sebagai warisan budaya tak benda di beberapa wilayah Guangdong, termasuk distrik Huadu di Guangzhou.

Huang Weihua, salah seorang pewaris resmi cuka bau kentut di Huadu, mempertahankan metode tradisional pembuatannya. Ia menggunakan beras yang patah sebagai bahan utama, kemudian menumisnya selama lebih dari 40 menit hingga berwarna keemasan, lalu menempatkannya dalam toples berisi air untuk difermentasi selama tiga bulan.

Manfaat Kesehatan dan Penggunaan Tradisional

Cuka ini dipercaya dapat merangsang nafsu makan, meredakan stasis darah, meningkatkan pencernaan, dan mendetoksifikasi tubuh. Khusus untuk cuka bau kentut satu ini, ia dipercaya sangat efektif meredakan panas dan kelelahan selama musim panas.

Secara tradisional, cuka biasanya dimasak dengan kaki babi, jahe, dan telur khusus untuk ibu menyusui. Persiapan ini dilakukan beberapa bulan sebelumnya hingga sudah tersedia saat ibu melahirkan. Masyarakat percaya bahwa cuka ini dapat meningkatkan pemulihan tubuh ibu selama masa nifas.

“Cuka panjang umur itu baunya sangat menyengat. Anak saya pernah memasak ceker ayam dengan cuka itu, dan jari-jarinya berbau tak sedap setelahnya,” ujar seorang warganet berbagi pengalamannya.

Reaksi dan Pengalaman Serupa dari Warganet

Kesalahpahaman yang dialami Chen memicu banyak reaksi dari warganet di media sosial. Beberapa berkomentar dengan berseloroh mengenai lucunya hal tersebut, sementara yang lain mulai berbagi pengalaman yang hampir sama dengan situasi yang dialami Chen.

“Saya pernah memasak cuka yang baunya menyengat di rumah saya di Shenzhen. Tetangga saya mengingatkan saya, jika saya melakukannya lagi, mereka akan memberi saya pelajaran,” tulis warganet yang lain.

Insiden ini menunjukkan bagaimana perbedaan budaya kuliner dapat menciptakan kesalahpahaman yang menghibur namun juga mengajarkan pentingnya memahami kekayaan tradisi makanan berbagai daerah. Cuka bau kentut Guangdong, meski baunya menantang, tetap menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya kuliner Asia memiliki cerita yang dalam dan manfaat yang telah teruji waktu. Baca juga: Toleransi Kerukunan Luwu Timur: Pesan Melalui Penyambutan UAS, yang menunjukkan pentingnya saling memahami dalam berbagai aspek kehidupan budaya. MI/AS

Sumber: gaya hidup