“Sudah sebegitu banyaknya Piala Soeratin, ada Liga 4, Piala Soeratin dari U13, 15, 17 dan lain-lain, kemudian dibebankan lagi wajib menyelenggarakan kompetisi putri, asosiasi provinsinya enggak mampu,” jelasnya.
Kondisi itu, kata dia, membuat pembinaan sepak bola putri berjalan bertahap. Meski begitu, dari sisi prestasi, timnas putri Indonesia tetap bisa unjuk gigi di level regional.
“Kalau dari sisi prestasi, kita enggak kalah. Kita kemarin juara AFF. Karena konsistensi dan fokus, itu yang bisa membuktikan bahwa kita bisa berprestasi,” ujarnya.
Baca juga: Timnas Indonesia Uji Coba Piala AFF: Herdman Bercanda soal Brasil
Dukungan Swasta Jadi Penopang Turnamen Putri
Vivin memberi apresiasi atas peran pihak swasta yang selama ini turut mendukung sepak bola putri Tanah Air. Dia berharap turnamen-turnamen semacam ini bisa terus berlanjut sebagai wadah pembinaan.
Selain kompetisi kelompok umur untuk atlet cilik hingga remaja, ada pula Srikandi Merdeka Cup U-16 yang rencananya digelar pada pertengahan Agustus 2026. Turnamen itu akan mendatangkan tim-tim dari luar negeri untuk bertanding melawan skuad putri Indonesia.
Menurut Vivin, program trilogi yang dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum sudah menjawab tantangan yang bertahun-tahun tak menemukan solusi di internal PSSI. Dia berharap konsistensi dukungan semacam itu bisa terus terjaga ke depan.
“Trilogi yang sudah dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum sudah menjawab tantangan yang selama ini bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berharap konsistensi dan support ini bisa continue,” pungkasnya.
MI/AS
Sumber: olahraga






