Merekamindonesia – Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, mengungkap pembinaan sepak bola putri di Indonesia masih tersendat karena masalah bujet. Dia menampik anggapan bahwa minimnya minat perempuan menjadi atlet jadi sebab utama.
Poin Penting
- Anggota Exco PSSI Vivin Cahyani Sungkono sebut bujet, bukan minat atlet, jadi kendala utama pembinaan sepak bola putri.
- Asosiasi provinsi kesulitan menggelar kompetisi putri karena sudah dibebani banyak agenda seperti Piala Soeratin dan Liga 4.
- Timnas putri Indonesia baru saja juara AFF, membuktikan prestasi tetap bersaing meski pembinaan masih berjalan bertahap.
- PSSI apresiasi dukungan swasta lewat Yayasan Bakti Olahraga Djarum, termasuk Srikandi Merdeka Cup U-16 pada Agustus 2026.
Vivin, yang punya latar belakang olahraga basket, menegaskan keinginan anak-anak untuk bermain sepak bola sudah cukup besar. Menurutnya, yang jadi soal justru soal pendanaan.
“Kalau bicara masalah kesulitan, kita semua tahu semuanya dari budget. Kalau keinginan kuat dari anak-anak ini untuk main sepak bola itu sudah ada,” kata Vivin dilansir dari Antara.
Asosiasi Provinsi Kewalahan Atur Kompetisi
Vivin menjelaskan asosiasi provinsi (Asprov) kesulitan menggelar kompetisi putri karena agenda kompetisi sudah menumpuk. Piala Soeratin untuk kelompok umur 13, 15, hingga 17 tahun, ditambah Liga 4, membuat kalender kompetisi jadi sangat padat.






