DaerahLingkungan Hidup

Kantor Nampak Seperti Istana, Warga Malili Hidup Ditumpukan Sampah

×

Kantor Nampak Seperti Istana, Warga Malili Hidup Ditumpukan Sampah

Sebarkan artikel ini
Tumpukan sampah di depan kios warga/foto sadly tim warta merekam indonesia

Luwu Timur merekamindonesia.com – Kota Malili, yang seharusnya menjadi wajah kebanggaan Kabupaten Luwu Timur, kini terjebak dalam tumpukan sampah yang semakin menggila (14/2). Hampir setiap sudut jalan dipenuhi sampah yang dibiarkan begitu saja, sementara pemerintah daerah terlihat lamban bahkan terkesan tidak peduli dalam menangani masalah ini.

Sejak senin terakhir, sampah di berbagai kawasan di Malili terus menumpuk, dengan tidak ada tindakan nyata dari pemerintah setempat untuk mengatasinya. Tempat pembuangan sementara (TPS) sudah penuh sesak, dan tidak sedikit sampah yang berserakan di sepanjang jalan, mengganggu pemandangan dan kesehatan masyarakat.

tumpukan sampah di depan puskesmas malili/foto sadly, warta merekam indonesia

“Ini bukan hanya masalah kebersihan, tapi sudah menjadi masalah besar yang mencemari lingkungan dan kesehatannya kita pak. Pemerintah malah sibuk dengan urusan lain, sementara kebersihan kota semakin memburuk,” ujar salah satu warga, yang tidak ingin disebut namanya ketika ditanya warta merekam indonesia.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur tampaknya tidak memiliki strategi yang jelas dalam menangani volume sampah yang terus meningkat. Padahal, sampah yang menumpuk bukan hanya menurunkan citra kota, tetapi juga berisiko mencemari lingkungan sekitar dan menyebabkan wabah penyakit.

Ditemui dikantor camat, kepala kecamatan malili memberikan tanggapan terkait fenomena ini.

“seharusnya, kordinasinya bagus antar pemerintah kabupaten dengan pemerintah desa, karena tidak semua sampah yg dihasilkan masyarakat dibuang di  Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Harusnya ada inovasi baru, sehingga sampah tidak menumpuk” ujar nasir, kepala kecamatan malili. ketika dimintai keterangan oleh warta merekam indonesia.

“Solusi saya, lakukan pemutusan rantai sampah mulai dari rumah, memisahkan sampah organik dan non organik, selama ini memang berjalan tapi tidak optimal” sambung pak nasir.

Sampah yang menumpuk ini juga menjadi ancaman serius terhadap pariwisata di Luwu Timur. Kawasan wisata yang biasanya menjadi tujuan utama pengunjung kini justru dipenuhi sampah, menurunkan daya tarik wisatawan dan membuat kondisi semakin memprihatinkan.