Breaking News

Bupati dan Kapolres Lutim Pimpin Mediasi, Dua Kelompok Pemuda yang Bentrok Sepakat Berdamai

×

Bupati dan Kapolres Lutim Pimpin Mediasi, Dua Kelompok Pemuda yang Bentrok Sepakat Berdamai

Sebarkan artikel ini
Bupati dan Kapolres Lutim Pimpin Mediasi, Dua Kelompok Pemuda yang Bentrok Sepakat Berdamai
Dok.Merekam Indonesia

MerekamIndonesia.com – Ketika dialog dikedepankan, sekat pun runtuh. Itulah yang terjadi di Aula Polres Luwu Timur, Desa Puncak Indah, Malili, Kamis (29/10/2026).

Di ruangan itu, dua kelompok pemuda yang sebelumnya bersitegang — Pemuda Dusun Kau Desa Lampenai dan Pemuda Dusun Saluboro Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu — akhirnya duduk dalam satu meja yang sama. Difasilitasi langsung oleh Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dan Kapolres Luwu Timur AKBP Irwan Kurniadi.

Bukan sekadar pertemuan formalitas. Ini adalah ikhtiar merajut kembali benang kerukunan yang sempat terurai sejak awal Oktober.

Turut hadir dalam lingkaran perdamaian tersebut Camat Wotu Hasis Dawi, Kepala Desa Bawalipu Wahyuddin, Kepala Desa Lampenai M. Saenal Bachri, Kapolsek Wotu, jajaran Polres Lutim, serta para tokoh masyarakat yang selama ini menjadi penopang ketenangan di dua desa.

Menyatukan Persepsi, Bukan Memenangkan Argumen

Bupati Irwan Bachri Syam membuka pertemuan dengan pesan yang jernih: tujuan kita bukan mencari siapa yang benar, tetapi bagaimana kita kembali pada satu tujuan yang sama.

“Sejak tanggal 7 hingga hari ini, ada rangkaian peristiwa yang harus kita lihat dengan kepala dingin. Tugas kita hari ini adalah menyamakan persepsi. Jika persepsi sudah sama, maka perdamaian bukan lagi wacana, tapi menjadi gerakan bersama,” ucap Irwan.

Bagi Bupati, kehadiran pemerintah daerah bersama kepolisian bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa setiap warga memiliki pegangan yang sama — bahwa Wotu harus kembali aman, tenteram, dan bebas dari dendam.

Keamanan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Kapolres Luwu Timur AKBP Irwan Kurniadi kemudian menegaskan pendekatan yang lebih membumi.

Ia mengingatkan bahwa konflik di tingkat dusun sering kali bermula dari hal kecil yang dibiarkan tanpa dialog, lalu membesar karena dipicu emosi, minuman keras, dan narkoba.