Merekamindonesia – Wotu — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sedang menghadapi tantangan nyata dalam pelayanan kesehatan rujukan. Keluhan warga tentang RSUD Wotu rujukan pasien yang kerap mengalami penundaan bahkan penolakan telah menjadi perhatian serius. Direktur RSUD I Lagaligo Wotu, dr. Irfan, memberikan penjelasan transparan terkait permasalahan yang dikeluhkan masyarakat pada hari Selasa, 21 Juli 2026.
Poin Penting
- RSUD Wotu saat ini hanya memiliki 189 tempat tidur untuk melayani rujukan pasien dari Puskesmas wilayah Luwu Timur
- Keterbatasan fasilitas menyebabkan penundaan dan pengalihan pasien ke rumah sakit lain di luar wilayah kabupaten
- Standar WHO merekomendasikan 1 tempat tidur per 1.000 penduduk, artinya Luwu Timur dengan 350 ribu jiwa membutuhkan minimal 350 tempat tidur
- Peningkatan jumlah pasien rujukan terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan kesadaran kesehatan masyarakat Luwu Timur
Akar Permasalahan Keterbatasan Tempat Tidur
Menurut dr. Irfan, penundaan penerimaan pasien rujukan dari jaringan Puskesmas di Luwu Timur terjadi karena terbatasnya ketersediaan tempat tidur, baik di ruang bangsal maupun di seluruh kamar rawat inap rumah sakit. Hingga saat ini, RSUD Wotu hanya mengoperasionalkan 189 tempat tidur.
Masalahnya, volume pasien rujukan terus meningkat dari waktu ke waktu. Lonjakan ini bersifat situasional dan sulit untuk diprediksi sebelumnya, sehingga kapasitas yang ada semakin tidak mampu menampung semua pasien yang memerlukan perawatan lanjutan.
Kesenjangan Antara Populasi dan Fasilitas
Data kependudukan menunjukkan Luwu Timur saat ini telah mencapai 350 ribu jiwa. Pertumbuhan penduduk yang signifikan ini tentu saja meningkatkan kebutuhan akan layanan kesehatan, termasuk perawatan inap di rumah sakit. Namun, peningkatan fasilitas tidak sejalan dengan pertumbuhan populasi tersebut.






