Merekam ind – Pagi itu, Danau Towuti terlihat seperti biasa—tenang, luas, dan seolah tak pernah menyimpan cerita. Namun beberapa minggu terakhir, warga di desa-desa sekitarnya hidup dalam kecemasan. Kebocoran pipa minyak jenis MFO membuat mereka bertanya-tanya: “Masih aman kah air yang kami pakai setiap hari ini?” Selasa 16 September 2025.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur akhirnya turun tangan. Bukan sekadar membawa janji, mereka datang bersama para ahli dari DRRC Universitas Indonesia dan laboratorium independen. Sampel air diambil di depan mata warga. Tak ada yang disembunyikan—dicatat, disegel, lalu dibawa ke laboratorium.
Saat hasilnya keluar, banyak yang akhirnya bisa menarik napas lega.
Seluruh parameter utama—sulfur, minyak dan lemak, hingga hidrokarbon—berada di bawah ambang batas. Bahkan menurut ketua tim ahli, Prof. Fatma Lestari, air Danau Towuti masih memenuhi baku mutu kelas 2, artinya bisa dipakai untuk mandi, budidaya ikan, hingga rekreasi.
“Airnya aman. Tapi bukan berarti kita boleh lengah,” ujar Prof. Fatma.
“Pemantauan berkala dan keterbukaan data harus terus berjalan.”
Pemerintah daerah pun mengulang pesan yang sama: hasil ini bukan akhir, tetapi awal dari pemulihan jangka panjang.
Di enam desa terdampak, layanan kesehatan, aduan warga, bahkan perbaikan jembatan dan irigasi terus dilakukan. Sudah 206 keluhan resmi dicatat dan ditangani.
Bupati Irwan menyebut hasil uji ini sebagai kabar baik, tapi ia tahu kecemasan warga belum sepenuhnya hilang.
“Airnya dinyatakan layak, tapi kami tetap akan pantau terus. Ini soal kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Kini masa tanggap darurat telah berakhir. Pemkab Luwu Timur memasuki fase transisi—fase di mana janji tidak boleh berhenti di poster, tapi hadir dalam bentuk jembatan yang diperbaiki, lahan yang kembali subur, dan air danau yang tetap jernih setiap pagi.
Karena bagi warga Towuti, kepercayaan bukan datang dari laporan tebal—tapi dari air yang masih bisa mereka genggam, hirup, dan wariskan untuk anak-anak mereka kelak.












