“Semua kebutuhan harus disiapkan sejak dini, termasuk pompa air untuk mengantisipasi musim kemarau, jika ada kebutuhan sarana pendukung segera diidentifikasi dan diajukan, sehingga tidak terjadi kendala saat musim kemarau tiba,” tegasnya.
Selain itu, peran penyuluh pertanian juga menjadi perhatian utama. Ia menegaskan bahwa penyuluh harus memahami potensi wilayah masing-masing serta aktif melakukan koordinasi dan pendampingan kepada petani.
“Penyuluh harus menjadi ujung tombak dalam meningkatkan produksi. Koordinasi yang baik akan berdampak pada peningkatan hasil pertanian,” tambah Taufiq Ratule.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan selaku Pj Swasembada Pangan Kabupaten Luwu Timur, Dr. Zainal Abidin, mengungkapkan bahwa potensi lahan di Luwu Timur cukup luas, dengan target tanam yang terus teroptimalkan.
“Capaian kita saat ini sudah cukup baik, namun tetap perlu percepatan. Kita harus berbasis data dan penyuluh harus memiliki target yang jelas di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.
Zainal juga menegaskan bahwa para petugas dan penyuluh di lapangan merupakan mata dan telinga Kementerian Pertanian dalam mengawal program tersebut.
“Keberhasilan penyuluh diukur dari peningkatan produksi pertanian. Mari kita jaga nama baik daerah dan Kementerian Pertanian dengan kerja nyata,” pungkas Zainal. *












