Pulau Empat disebut sebagai salah satu situs jejak geologi penting, sementara Danau Matano dikenal luas sebagai salah satu danau terdalam di Asia Tenggara. Menurut Andi Tabacina, peran pengelola dan masyarakat setempat sangat menentukan keberlanjutan pengenalan potensi ini ke publik yang lebih luas.
“Kalau bukan kita yang jaga dan perkenalkan, siapa lagi. Danau Matano ini sudah indah, tinggal bagaimana kita rawat bersama,” tambahnya.
Padungku Jadi Ajang Syukur Sekaligus Dorong UMKM
Camat Nuha, Arief Fadillah Amier, mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga kelestarian Danau Matano dari tahun ke tahun. Ia menerangkan bahwa Padungku merupakan kegiatan tahunan yang digelar di setiap desa sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh.
Lebih jauh, Arief berharap perhelatan budaya semacam ini turut mendongkrak sektor pariwisata dan menggerakkan UMKM lokal. Semangat menghadirkan generasi muda yang tangguh juga tampak pada berbagai program pembinaan di Luwu Timur, sebagaimana diulas dalam program penggemblengan 70 pemuda Lutim menjadi calon pemimpin masa depan.
“Kita ingin orang luar datang melihat langsung keindahan Danau Matano dan mengenal budaya yang ada di sini,” terang Arief.
Rangkaian Padungku Danau Matano sejak hari pertama diramaikan berbagai lomba dan hiburan rakyat. Ada tari Momaani, wisata kuliner, booth UMKM, lomba perahu dayung dan bangka-bangka, hingga aneka permainan tradisional yang melibatkan warga lintas generasi.
Baca juga: Wabup Puspawati Tekankan Peran Orang Tua Lindungi Anak dari Dampak Penggunaan Gawai.
Dengan rangkaian kegiatan yang konsisten digelar setiap tahun, Padungku diharapkan tidak hanya menjadi ritus syukur, tetapi juga jembatan memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Nuha ke tingkat yang lebih luas. Upaya menjadikan kawasan ini sebagai Geopark Nasional pun sejalan dengan semangat menjaga Danau Matano sebagai warisan yang harus dirawat lintas generasi. MI/AS
Sumber: Warta Lutim






