Merekamindonesia – Kemudahan bayar lewat QRIS membuat banyak orang beralih dari uang tunai. Sayangnya, kepraktisan itu juga membuka celah bagi penipuan QRIS palsu yang kini kerap menyasar pembeli maupun pedagang. Memahami cara kerja modus ini menjadi bekal penting agar dana Anda tidak melayang.
Bank Indonesia mencatat QRIS menjadi motor utama transformasi pembayaran digital, dengan jumlah pengguna mencapai 60,77 juta hingga Februari 2026. Penggunaannya bahkan meluas hingga lintas negara, seiring meningkatnya kerja sama dengan negara mitra.
Kenali 5 Modus Penipuan QRIS Palsu
Secara umum, pelaku meniru identitas merchant asli, mulai dari nama, jenis barang, hingga nominal transaksi. Dikutip dari situs Bank Mega Syariah, berikut sejumlah modus yang pernah terjadi.
1. Menempel QR palsu di gerai umum. Modus ini paling sering ditemukan. “Biasanya, pelaku menaruh QR Code palsu di merchant makanan, minuman, atau tempat umum untuk mengecoh korban,” terang Bank Mega Syariah. Kasus serupa menimpa QRIS masjid, di mana barcode di kotak amal diganti dengan kode yang mengarah ke rekening pribadi penipu.
2. Bukti transfer palsu. Pedagang perlu ekstra hati-hati terhadap modus ini. Penipu memakai tangkapan layar transaksi lama yang sudah diedit.
“Untuk modus ini, penipu memanfaatkan ketidaktelitian penjual yang sedang fokus dengan para pembeli lainnya,” kata Bank Mega Syariah.
Notifikasi pembayaran memang mudah dicek. Namun saat banyak pembeli membayar bersamaan, penjual bisa kebingungan dan celah pun terbuka.
Modus yang Memainkan Psikologi Korban
3. Menukar rekening tujuan. Minimnya pemahaman soal QRIS dimanfaatkan pelaku untuk mengalihkan pembayaran ke rekeningnya sendiri. Korban diminta membayar ke nomor rekening berbeda melalui QRIS palsu yang seolah-olah sah.
4. Scamming. Pelaku mengincar sisi emosional korban agar mau mentransfer dana lewat QRIS. Mereka mengaku sebagai pihak resmi sambil menjanjikan hadiah atau keuntungan besar.












