“Luwu Timur dikenal sebagai miniatur Indonesia karena masyarakatnya berasal dari berbagai suku dan memeluk agama yang berbeda. Hingga hari ini, persaudaraan dan toleransi kerukunan tetap terjaga dengan baik,” kata Bupati Irwan dalam sambutannya.
Pernyataan ini bukan hanya retorika pemimpin daerah, melainkan cerminan dari realitas lapangan yang terukur. Komitmen tata kelola pemerintahan Luwu Timur terhadap kerukunan telah menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan daerah.
Pesan Persatuan dari Tokoh Agama
Menanggapi antusiasme penyambutan, Ustadz Abdul Somad menyampaikan perspektif penting tentang makna kebersamaan. “Kebersamaan ini adalah wujud mempererat persatuan, menjaga persaudaraan, serta memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga semangat toleransi kerukunan ini terus terpelihara di tengah masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Ucapan UAS menggarisbawahi bahwa toleransi dan kerukunan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi fondasi kolektif yang menopang kestabilan nasional. Pesan ini resonan di tengah arus polarisasi yang sering mewarnai kehidupan sosial di berbagai belahan negeri.
Kehadiran Forkopimda, Sekretaris Daerah Dr. Ramadhan Pirade, para kepala OPD, para camat, tokoh masyarakat, dan tamu undangan lainnya membuktikan bahwa acara ini bukan sekadar peristiwa protokoler, melainkan komitmen bersama pemerintah dan masyarakat terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Baca juga: Ustadz Abdul Somad Luwu Timur: Tablig Akbar Disambut Tokoh Agama di Malili
Penyambutan Ustadz Abdul Somad menjadi pesan kuat bahwa Luwu Timur terus membangun fondasi dialog dan saling pengertian antar kelompok masyarakat. Dalam konteks ini, toleransi dan kerukunan bukan sekadar semboyan, melainkan praktik hidup yang nyata dan berkelanjutan, menjadi modal penting untuk membangun masa depan daerah yang damai, harmonis, dan sejahtera. MI/AS
Sumber: Warta Lutim






