Di hadapan Ibas, sekitar empat puluh jurnalis berdiri dan duduk dalam formasi yang cair. Ada yang mengangkat kamera ponsel untuk mendokumentasikan momen itu, ada yang hanya menyimak dengan serius, seolah setiap kata bupati adalah serpihan panduan yang harus dicatat dalam ingatan.
Namun sore itu tampaknya punya agenda sendiri. Tak lama setelah sambutan berakhir, hujan turun. Rintik yang mula-mula halus berubah menjadi deras, dan ombak pun mulai menghantam lambung kapal. Phinisi itu bergetar sebentar, tetapi tetap melaju, menembus potongan-potongan ombak dengan keteguhan yang tenang.
Pemandangan itu, entah sengaja atau tidak, seperti metafora bagi pekerjaan jurnalis: dihantam ombak, diterpa angin, tetapi tetap bergerak—merekam, menulis, dan menjaga cerita daerah.
Di atas kapal yang basah oleh hujan itu, semangat para jurnalis terasa tak ikut meredup. Mereka tetap bertahan, tetap mendengarkan, tetap mengabadikan. Seolah kapal phinisi itu, dengan segala riaknya, sedang mengajarkan satu hal: bahwa perjalanan mengabdi lewat informasi memang tidak selalu tenang, tapi selalu layak diperjuangkan. 12 November 2025. /Mi










