“Jangan hanya mengetahui angka atau nama yang ada di dalam data. Pelajari siapa keluarganya, di mana alamatnya, bagaimana kondisi orang tuanya, dan mengapa anak tersebut masuk dalam kategori yang membutuhkan perhatian. Setelah itu, kita harus tahu apa yang perlu dilakukan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Naoemi Octarina Sudirman, menegaskan bahwa persoalan stunting masih membutuhkan perhatian dan penanganan serius.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui intervensi kesehatan, tetapi juga harus dibarengi dengan edukasi keluarga, pemenuhan gizi, pendampingan ibu hamil, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pola hidup sehat.
“Masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, masih ada ibu hamil yang membutuhkan pendampingan, dan masih ada keluarga yang membutuhkan edukasi mengenai gizi serta pola konsumsi yang benar. Karena itu, upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.
Menurut Naoemi, terdapat dua kekuatan yang harus berjalan beriringan dalam gerakan ini, yakni intervensi bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui Tim Penggerak PKK.
Selain itu, pada kesempatan ini juga diberikan Penyerahan Paket Intervensi Aksi Stop Stunting (ASS) 2026 bagi balita dan ibu hamil, sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi dan upaya pencegahan stunting. (nor/ikp-humas/kominfo-sp)






